Namanya Pardi. Lengkapnya Supardi. Dia bekerja sebagai buruh bengkel sepeda motor di pinggiran kota Jogjakarta tempat tinggalnya. Usianya masih tergolong muda. Dia lulus dari STM jurusan mesin setahun tahun yang lalu. Orang tuanya membuka warung kecil di rumah mereka sebagai penghasilan satu-satunya. Kedua kakaknya mengikuti program transmigrasi ke Kalimantan sejak setahun yang lalu. Tetangga-tetangganya kerap memanggilnya dengan sebutan “Kang Pardi” yang artinya sama dengan “Kak Pardi”. Sementara kedua orang tuanya lebih dikenal dengan sebutan “Pakde dan Bude Karjo” yang berarti “Paman dan Bibi Karjo”.
“Bu, aku ingin ikut Diklat Satpam, “kata Pardi suatu hari mengagetkan ibunya.
“Kok ana-ana wae to kowe, Le…” (kok ada-ada saja to kamu ini, Nak) jawab Sang Ibu. “Kan kamu sudah enak punya kerjaan tetap di bengkel. Kalau ikut Diklat kan berarti tambahan biaya lagi… Mikir biaya lagi…” lanjut ibunya.
“Lagipula apa enaknya jadi satpam?” tanya ibunya.
“Bu, kalau aku jadi satpam, aku kan bisa lebih banyak mengenal orang, ketemu orang. “Masak seumur-umur aku hanya ketemu dengan mesin sepeda motor?” jawab Pardi.
“Mbuh, Le, … matura bapakmu kana!” (gak tahu, Nak, kamu bicara sama bapakmu saja!) jawab ibu Pardi sambil membetulkan sanggul rambutnya yang lepas.
*******
“Pak, aku ikut Diklat Satpam, ya, Pak…” tanya Pardi sore hari itu kepada bapaknya yang sedang menunggu warung mereka. Laki-laki paruh baya itu menatap wajah anaknya dengan sedikit heran, sambil membetulkan letak kacamatanya.
”Diklat Satpam? Memangnya kamu mau jadi Satpam gitu to?” tanya Pak Karjo.
”La, iya, Pak. Kalau ikut Diklat Satpam ya jadi Satpam, gimana to bapak ini...” jawab Pardi.
”Apa gratis to? Kok kamu mau ikut?” tanya bapaknya lugu.
”Wah, bapak ini. Zaman sekarang mana ada yang gratis to, Pak, Pak... ya bayar!” jawab Pardi agak kesal.
”La bayarnya berapa? Apa kamu punya uang? Tabunganmu cukup?” tanya bapaknya.
”Kata Tarmin temanku, dia dulu waktu daftar sudah suruh bayar 1,5 juta. Aku tidak tahu sekarang harus bayar berapa. Mungkin ya sekitar itu jugalah, Pak...” jawab Pardi.
”Tabunganku baru ngumpul 500 ribu, tapi mungkin kita bisa pinjam sama Pakde Totok kekurangannya. Nanti kalau aku sudah bekerja kan bisa kukembalikan dengan mengangsur..” jelas Pardi lagi.
”Tapi si-Totok itu kan memberi pinjaman dengan bunga to? Nanti bunganya tinggi, kan kita susah bayarnya?” kata bapaknya.
”La habis gimana, Pak, kalau aku pinjam kakak-kakakku, mereka kan baru saja setahun yang lalu mulai transmigrasi, mereka pasti ya sedang susah-susahnya menyesuaikan di tempat yang baru to, Pak...” Pardi mencoba memberi argumen kepada bapaknya.
”Ya, terserah kamulah... Pokoknya jangan sampai mempersulit dirimu sendiri...” jawab Pak Karjo, setelah melihat tekad anaknya sangat bulat.
********
Beberapa bulan kemudian, Pardi sudah menyelesaikan Diklat Satpamnya, dan dia dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup baik. Kini, ia sedang mencari-cari lowongan pekerjaan. Dia sangat bersemangat karena apa yang diimpikannya menjadi kenyataan, yaitu dia sekarang menjadi satpam. Teman-teman seangkatannya sewaktu menjalani Diklat sudah banyak yang diterima bekerja di beberapa bank terkenal dan perusahaan-perusahaan besar di Jogjakarta. Tetapi Pardi tidak berminat mengikuti jejak teman-temannya. Dia ingin menjadi satpam di sebuah sekolah atau rumah sakit. Beberapa teman sudah membujuknya untuk ikut melamar di bank tempat mereka bekerja, tetapi Pardi tetap bertekad untuk mencari lowongan sebagai satpam di sekolah atau rumah sakit.
”Bu, aku ingin melamar di sekolah internasional di Surabaya. Mereka butuh satpam untuk sekolah mereka. Ini aku baru baca di koran hari ini. Kalau diterima, aku berangkat ke Surabaya lo, Bu...” cerita Pardi pagi itu, dan lagi-lagi mengejutkan ibunya.
“Kok ana-ana wae to kowe, Le…” jawab sang ibu. ”Memangnya di kota ini sudah kekurangan lowongan kerja kok kamu harus ke Surabaya segala?” tanya ibunya.
”Wah, ibu ini gimana to? Kalau mau sukses ya harus berani mengejar kesempatan to, bukan cuma duduk diam menanti mimpi...!” protes Pardi.
”Aku gak bisa melarangmu kalau memang kemauanmu begitu... Hati-hati saja, Surabaya kota besar. Kamu harus bisa membawa diri supaya jangan ”kesandung” (tersandung) lalu kamu jatuh. Nanti yang rugi kamu sendiri..” nasihat ibunya.
********
Karena kemauan dan tekadnya, Pardi akhirnya diterima bekerja sebagai staf keamanan di sebuah sekolah internasional yang cukup terkenal di Surabaya. Hati Pardi sangat bungah karena apa yang ia impikan selama ini menjadi kenyataan. Menjadi satpam di sebuah sekolah, terlebih sekolah internasional, lebih lagi cukup terkenal pula. Mau apa lagi? Tepat, bahkan lebih dari apa yang ia impikan. Ia meninggalkan kota kelahirannya dengan bangga dan besar hati. Walaupun ia ingat ia masih harus membayar angsuran kepada Pakde Totok karena ia meminjam uang dulu untuk membiayai Diklat Satpam yang pernah diikutinya. Tetapi apalah artinya membayar angsuran dibandingkan dengan prestise yang ia dapatkan dengan bekerja di sebuah sekolah internasional. Dengan gajinya, dia yakin bisa mengembalikan semua uang yang dipinjamnya berikut dengan bunganya.
Hari itu, Pardi sedang bertugas jaga di pos keamanan. Dia mengenakan seragam satpam dengan begitu bangga. Dia sudah bekerja selama dua bulan di sekolah itu. Masa trainingnya sudah hampir usai. Dan setelah masa training selesai, dia akan diminta menandatangi kontrak kerja selama setahun dengan sekolah itu.
”Pardi!!... Ada tamu untukmu!” teriak Jono dari kejauhan. Jono adalah rekan satpam yang sedang bertugas di pintu utara. Dia berjalan bersama dengan seorang lelaki seusia bapaknya. Pardi bergegas menyambut mereka.
”Ada apa Jon...” kata Pardi. ”Loh, Pakde Totok?!! Kok bisa sampai di tempat ini?” kata Pardi heran.
“Pardi, Pak Totok ini tadi mencarimu. Dia masuk lewat pintu utara sana, makanya kuantarkan dia menemuimu...” jelas Jono.
”Oh, begitu... Terima kasih ya, Jon.. sudah mengantarkan Pakde Totok kemari...” sambung Pardi.
”Iya, sama-sama. Silakan Pak Totok, silakan kalau ingin berbincang dengan Pardi...” kata Jono seraya meninggalkan mereka berdua.
”Gimana Pakde, apa kabar? Tumben kok sampai di Surabaya, ada perlu apa ini?” tanya Pardi setelah Jono pergi kembali ke tempat tugasnya.
”Iya, aku sengaja ke Surabaya ini ingin menemuimu. Aku menanyakan alamatmu pada bapakmu. Aku ada perlu denganmu, Pardi..” jelas Pak Totok serius.
”Oh, iya, ada apa ya Pakde, kok tampaknya serius dan penting sekali?” tanya Pardi sedikit heran dan was-was.
”Gini, kamu kan meminjam uangku 2,5 juta untuk biaya Diklat Satpammu waktu itu to...” kata Pak Totok memulai penjelasannya.
”Nah, aku saat ini ada kebutuhan yang mendesak sekali. Aku butuh uang sejumlah 2,5 juta itu sekarang juga berikut bunganya. Makanya aku sampai harus menyusulmu kemari karena aku sangat membutuhkan uang itu...” kata Pak Totok.
”Waduh, tapi Pakde, bukankah perjanjian kita dulu, aku melunasinya dengan cara mengangsur dan akan kulunaskan setelah satu tahun aku diterima kerja. Bukankah begitu perjanjian kita dulu, Pakde? Dan bukankah aku juga sudah mulai membayar angsuran beserta bunganya sejak dua bulan yang lalu.” jelas Pardi.
”Iya, iya, aku tahu memang itu perjanjian kita dulu. Dan aku juga sudah menerima angsuranmu sebanyak dua kali. Tapi bagaimana, aku sangat butuh uang itu. Jadi, aku minta sekarang ya, Pardi. Masak aku sudah jauh-jauh ke Surabaya ini mencarimu lalu kau biarkan aku pulang dengan tangan hampa?” kata Pak Totok.
”Loh, Pakde Totok ini gimana sih... kok seperti tidak tahu bagaimana sulitnya orang kerja saja? Aku kan baru bekerja hampir tiga bulan ini. Gajiku pun harus kubagi-bagi antara membayar angsuran hutangku pada Pakde, membayar kos, dan lain-lain. Aku di Surabaya kan hidup sendiri tidak dengan orang tuaku apalagi Surabaya biaya hidupnya tinggi, Pakde... bagaimana aku bisa mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat?” jelas Pardi dengan sedikti jengkel.
”Lagipula perjanjiannya kan masih setahun lagi baru kulunasi semuanya!” tambah Pardi lagi dengan nada yang meninggi.
”Perjanjian itu kan perjanjian lisan saja to Pardi. Tidak ada perjanjian tertulis. Lagipula aku yang meminjamkan uang itu padamu, aku juga yang berhak meminta uang itu kembali kan itu hakku to???!!!” jawab Pak Totok dengan nada sedikit kesal, membenarkan sikapnya.
”Loh. Walaupun perjanjian itu tidak tertulis, tapi kan Pakde Totok selama ini sudah kuanggap keluarga sendiri. Lagipula aku meminjam uang juga dengan memberikan bunganya, hanya saja aku tidak bisa kalau harus melunasi seluruhnya sekarang. Pakde kan tahu kondisiku???” jawab Pardi semakin kesal.
”Eh, Pardi! Kalau kamu tidak bisa memberikan uang itu sekarang. Hati-hati saja kamu! Jangan mentang-mentang kamu sudah jadi satpam lalu kamu bisa seenaknya sendiri denganku! Kamu kira aku ini siapa, ha?!! Sekali lagi kutegaskan padamu! Aku membutuhkan uang itu sekarang, dan aku mau kamu memberikannya kekurangannya saat ini juga!!” gertak Pak Totok dengan mata yang melotot.
”Loh, Pakde ini apa-apaan!! Sudah kukatakan tadi kalau aku tidak punya uang sebanyak itu!! Lagipula Pakde kan sudah mengingkari perjanjian kita!! Aku tidak bisa menyerahkan uangmu sekarang. Kalau mau, tunggulah pelunasannya dariku sesuai perjanjian kita!!” jawab Pardi tidak kalah garangnya.
”Jadi begitu? Kamu mau main kasar ya!!! Aku bisa melaporkan kasusmu ini ke ....!!!!” seru Pak Totok sambil menuding-nuding Pardi.
”Bak!! Buk !!”
”Uuugghhh, aaahhh!!!” jerit Pak Totok. Serangan tongkat satpam yang dibawa Pardi bertubi-tubi mengenai tengkuk dan kepalanya. Dia rebah. Tidak bergeming.
********
Pagi itu, seperti biasa, sepulang dari pasar, Bu Karjo membuka warungnya sambil duduk santai. Naning, tetangga sebelah berlari tergopoh-gopoh menuju warungnya.
”Bude!!...Bude!!!... Kang Pardi masuk koran, Bude!!!...” teriak Naning.
Bu Karjo mengerutkan kening, tidak percaya.
”Ini lo bude... Ini kan benar sekolahan tempat Kang Pardi kerja to?” kata Naning lagi.
”Kubacakan beritanya ya, Bude...” cerocos Naning sebelum Bu Karjo bisa menjawab.
”Satpam Supardi, salah satu satpam di Sekolah ....... telah menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan ..... yang dilakukannya kemarin siang. Yang bersangkutan telah diamankan petugas dan kini mendekam di penjara .... menunggu proses selanjutnya.....” Naning membacakan berita utama di koran yang dibacanya pagi itu.
Bu Karjo terhenyak, tidak dapat berkata apa-apa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya mengalir....dengan bergumam lirih, ia berkata, “Kok ana-ana wae to kowe, Le…lelakonmu” (Kok, ada-ada saja kisah hidupmu, Nak).
********
This blog contains stories and personal reflections on anything that happened in my life. I hope that the stories enrich us to live our life fully.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
3/11/09
3/4/09
TANDA DI MATA
“Hai, kenalin, namaku Noel. Aku dari fakultas psikologi semester 5.”
“Oh, hai, aku Tirza. Aku ambil sastra Inggris.”
“Kamu lahir di Surabaya, Tirza?”
“Iya. Kalau kamu?”
“Oh, aku dari Palembang. Orang tuaku baru saja pindah ke Surabaya, tugas papaku dipindah ke sini.”
“O, begitu ya.. bagaimana Surabaya menurutmu?”
“Yaa.. menarik untuk dieksplorasi ha ha ha…”
“Suka nyanyi ya?” tanyaku.
“Iya. Dari kecil aku nyanyi dan selalu ikut kelompok paduan suara.”
Aku membayangkan percakapanku dengan Noel di kampus tadi saat kami selesai berlatih paduan suara. Aku baru saja masuk perguruan tinggi. Sesuai keinginanku sejak kecil, aku masuk ke sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Papa dan mama sangat mendukung pilihanku. Lagipula mereka memang sudah lama mempersiapkan biaya pendidikan agar aku bisa meneruskan ke perguruan tinggi.
Kami memang bukan keluarga kaya. Papaku, guru sekolah menengah swasta. Selain mengajar di sekolah, ia juga memberi les privat kepada anak-anak di luar jam kerjanya di sekolah. Papa kadang pulang larut malam karena dia memberi les dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Tetapi dia menikmati pekerjaannya.
Mama memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi dia orang yang ulet dan tekun. Dia pernah mengikuti kursus menjahit dan dia menekuni hingga ia menjadi penjahit baju yang lumayan laris. Langganannya selalu datang tiap hari. Dari hasil jahitannya, Mama mendapatkan imbalan yang cukup untuk membantu penghasilan keluarga. Aku anak tunggal mereka. Kadang aku merasa kesepian walau aku punya banyak teman dekat. Papa dan mama sering terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku mengalihkan rasa sepiku dengan aktif mengikuti organisai di sekolah. Sekarang, setelah aku di universitas, aku tertarik bergabung di anggota paduan suara kampusku. Aku tidak memiliki keahlian khusus menyanyi, tetapi Mama suka sekali bernyanyi khususnya saat ia sibuk dengan pekerjaan menjahitnya atau pekerjaan rumah tangga yang lain.
“Tirza, Bantu Mama sebentar, Nak!” seru Mama. “Ah, sedang melamun ya?” kata Mama lagi.
“Eh, Mama, bikin kaget aja! Ada apa, Ma!”
“Bantu Mama memasang kancing-kancing baju ini ya. Besok baju ini mau diambil Tante Mirna.”
“OK, Bos!” jawabku. Aku memang sering membantu Mama kalau aku senggang.
“Bagaimana latihan paduan suara tadi? Senang tidak?” tanya Mama.
“Lumayan, Ma. Banyak kenalan baru dari fakultas yang lain…” jawabku.
“Hmm baguslah…Pasti ada yang menarik perhatianmu, ya?” tanya Mama.
“Ah, Mama …tahu juga…yaaa… ya iya sih… Noel namanya dari fakultas psikologi semester 5, pindahan dari Palembang. Orang tuanya ditugaskan pindah ke Surabaya.” ceritaku.
********
“Ma, aku nanti pulang kuliah langsung latihan paduan suara, ya!” teriakku sambil kucium pipinya.
“Ya, hati-hati ya!” jawab Mama sambil melambaikan tangan.
Waktu kuliah hari itu terasa sangat lama dan menjemukan. Aku sedikit tidak sabar ingin mengakhirinya. Segera setelah kuliah selesai, aku berjalan cepat-cepat menuju tempat latihan paduan suara. Di tengah jalan, di depan gedung fakultas psikologi, kulihat Noel sedang keluar dari gedung. Dia melihatku, lalu bergegas menyambutku. Matanya berbinar, rambutnya yang dibiarkan agak panjang sebahu berkibar diterpa angin sore itu.
“Hai Tirza, mau latihan ya?”
“Iya” jawabku singkat seraya tersenyum.
“Bareng yuk!” ajaknya lalu berjalan di sisiku.
Tidak ada kata-kata yang terucap tetapi aku merasakan nyaman ada di dekatnya dan dia di dekatku. Aku merasa dia bukan orang yang baru kukenal tetapi seolah orang yang sudah lama kukenal.
Latihan selama satu jam terasa cepat bagiku. Ketika aku akan pulang, Noel kembali menghampiriku, katanya, “Kita satu arah, jadi bisa menunggu bis sama-sama.”
“OK aja” jawabku. Kemudian kami berjalan menuju tempat perhentian bis di luar kampus.
“Gak terasa ya, kita latihan sudah 3 bulan.” Tiba-tiba, suaranya memecah keheningan di antara langkah-langkah kami.
“Iya. Minggu depan kita sudah harus tampil di acara Dies Natalis universitas.” Jawabku.
“Ya, dan hari Rabu kita harus latihan yang terakhir sebelum tampil.” Tambahnya.
“Lahir dan besar di Palembang?” tanyaku pada Noel.
Ia menggeleng. Setelah menghela nafas, Noel melanjutkan, “Aku tidak dilahirkan di Palembang, aku lahir di Banjarmasin. Seperti yang kau tahu, orang tuaku sering ditugaskan ke berbagai kota untuk beberapa waktu lamanya. Sebenarnya mereka bukan orang tuaku…” katanya dengan suara sedikit bergetar.
“Oh, maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman dengan pertanyaanku tadi.” kataku menyesal.
“Gak apa. Aku tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada orang lain, juga kepada teman-teman dekatku. Tetapi denganmu, entah mengapa aku ingin menceritakannya. Yah, orang tuaku yang sekarang adalah orang tua angkat. Mereka merawatku sejak aku masih bayi. Kebetulan memang mereka tidak mempunyai anak dan mereka mengharapkan kehadiran seorang anak. Orang tua kandungku? Aku tidak tahu siapa dan di mana mereka. Menurut cerita papa mama angkatku, aku dititipkan oleh ibu kandungku ketika aku masih berusia beberapa hari. Orang tua kandungku tinggal tidak jauh dari rumah papa mama angkatku. Orang tua kandungku adalah orang miskin. Ayah kandungku buruh di proyek bangunan, ibuku tidak bekerja. Saat usia kandungan ibuku 7 bulan, ayah tiba-tiba mengalami kecelakaan di proyek tempat ia bekerja yang menyebabkan ia kehilangan nyawanya. Ibu sangat terkejut dengan kejadian itu. Ia sangat terpukul, sedih, dan putus asa. Kondisi emosinya yang tidak stabil itu membuat kondisi fisiknya sangat lemah dan akibatnya aku lahir sebelum genap waktunya. Uang santunan kematian ayah dari perusahaan tempat ayah bekerja sebagai buruh digunakan ibu untuk biaya kelahiran dan karena kondisiku masih sangat lemah, aku harus dirawat di rumah sakit. Ibu sangat bingung bagaimana mendapatkan biaya tambahan untuk perawatanku. Akhirnya dengan berhutang dari tetangga dan saudara, ibu dapat membayar biaya perawatanku di rumah sakit.
Hutang yang menumpuk, biaya hidup di depan mata, serta kepedihan karena kematian ayah, membuat ibu memutuskan untuk mencari pekerjaan di luar daerah kami selain untuk menghapus kenangan akan ayah. Aku yang saat itu masih sangat lemah, mengingat ibu tidak memiliki sanak saudara di luar kota, ibu nekad menyerahkan aku kepada papa mamaku sekarang. Ia memohon dengan sangat agar mereka mau merawat aku seperti anak mereka sendiri, sampai ibu dapat menjemputku.
“Oh, ibu kandungmu pasti sangat berat memutuskan hal itu.” kataku.
“Ya … “ jawab Noel.
“Pasti berat untukmu mengetahui kenyataan bahwa kau bukan anak kandung mereka, “tanyaku.
“Mulanya iya. Dan mulanya aku merasa aku ini tidak dikehendaki oleh ibu. Ada rasa sakit di dalam dadaku ini karena aku merasa dibuang oleh orang tuaku.” jawab Noel.
“Hmm yah.. pasti sakit sekali rasanya. Apa rasa sakit itu masih ada hingga sekarang?” tanyaku.
“Tidak. Seiring berjalannya waktu dan karena pemahaman yang diberikan papa mama angkatku, berangsur perasaan itu hilang. Aku tidak tahu di mana ibu kandungku sekarang. Papa mama angkatku sering sekali pindah tugas. Mungkin, ibu pernah mencari kami di tempat kelahiranku tetapi kami pasti sudah tidak ada di sana lagi. Aku merasa ibu pasti juga sangat bingung dan merasa bersalah saat itu. Kalau aku bisa bertemu kembali dengannya, aku hanya ingin katakan kalau aku tidak pernah membencinya. Aku memaafkannya dan aku mengasihinya.” jelas Noel dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku beruntung karena kau percayai dengan menceritakan tentang masa lalumu.” kataku. “Tapi aku juga kagum karena kau bisa menghilangkan rasa sakit di hatimu dengan rasa kasih dan memaafkan.” tambahku lagi.
“Kau lebih beruntung Tirza. Kau punya ayah dan ibu kandung yang selalu di sampingmu.” kata Noel.
Aku mengangguk pelan, sambil memberi isyarat kalau bis yang kami tunggu sudah datang.
********
“Ma, besok hari Sabtu, paduan suara kampus akan mengisi acara di Dies Natalis. Aku dapat undangan untuk 2 orang. Papa dan mama harus hadir ya melihat penampilanku. Sekaian kukenalkan pada Noel!” pintaku sambil kukerlingkan mata pada Mama.
“Hmm…paduan suaranya atau Noelnya yang penting ya?” tanya Mama menggodaku.
“Ah Mama, pilih sendirilah mana yang penting ha ha ha” jawabku sambil berlari menghampiri hapeku yang berbunyi.
“Halo Noel…ada apa ya?” tanyaku sambil menjawab panggilannya.
“Tirza, aku pamit ya, aku diminta menemani Mama ke Palembang. Saudara kami ada yang sakit keras, dan Mama harus menengok. Pekerjaan Papa tidak bisa ditinggal.” Jelas Noel bertubi-tubi. Tampaknya dia terburu-buru.
“Aku sudah di bandara sekarang, pesawat kami akan berangkat satu jam lagi. Tapi aku hanya sebentar saja. Sebelum acara Dies Natalis, aku pasti sudah kembali dan kita akan tampil bersama. OK Tirza, bye dulu yaaa…” kata Noel.
“Ya, ya, … hati-hati ya.. dan sampai jumpa hari Sabtu ya, bye…” jawabku.
Hari-hari menjelang Dies Natalis kuhabiskan bersama Nina dan Tania untuk mempersiapkan perlengkapan paduan suara kami. Kami membeli perlengkapan ini dan itu, khususnya untuk pakaian seragam yang digunakan karena ada sedikit perombakan seragam dari seragam paduan suara yang lama.
“Hai Tirza, bagaimana Noel, sudah kirim kabar ke kamu belum?” tanya Nina.
“Belum. Mungkin dia sibuk dengan mamanya, kan saudara mereka sakit.” jawabku.
“Tapi dia pasti bisa datang kan?” tanya Tania memastikan.
“Iya, dia bilang begitu.” kataku.
Sehari sebelum acara Dies Natalis, Noel mengirimkan SMS mengatakan bahwa dia pasti bisa hadir di acara dan kami akan tampil bersama. Pesawatnya akan berangkat Sabtu pagi, sementara acara di Sabtu sore.
Saat yang kunantikan pun tiba. Sabtu pagi aku sudah sibuk mempersiapkan baju seragam dan pernak-pernik yang lain. Hingga tengah hari aku baru sadar bahwa seharusnya Noel sudah tiba. “Ah, mungkin pesawatnya cancel beberapa jam. Biasa kan begitu.” pikirku menenangkan diriku sendiri.
Tiga jam menjelang acara, hapeku berdering. Noel memanggil. “Halo, halo, Tirza ya…aduh.. pesawatku belum bisa diterbangkan hingga saat ini. Aku mungkin tidak bisa hadir di acara. Tolong kamu sampaikan maafku kepada rekan-rekan yang lain. Ini benar-benar mendadak dan tidak terduga.”
“Ya, Noel. Tapi kamu tidak apa-apa kan? Nanti aku sampaikan kepada rekan-rekan yang lain. Tidak lengkap rasanya tanpa kehadiranmu tapi apa mau dikata.” jawabku.
“Aku baik-baik saja Tirza. Nah, sekarang, siap-siaplah untuk tampil sebaik-baiknya!” kata Noel memberiku semangat.
“OK Noel, sampai ketemu lagi ya…Nanti aku cerita padamu deh bagaimana penampilan kita..” jawabku.
“OK…bye…”kata Noel sambil menutup telpon.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Penampilan paduan suara kami pun mendapat sambutan yang hangat. Memang aku merasa sedikit tidak enak karena tidak ada Noel bersama kami. Papa dan mama hadir. Mereka juga sedikit kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Noel. Walaupun kami sering bersama di kampus. Noel belum sempat sekali juga ke rumahku. Kesibukannya memang cukup tinggi. Dia senang mengikuti kegiatan-kegiatan sosial.
Setibanya di rumah, aku merasa kesepian menyelimuti hatiku. Aku merasa ada sebagian dariku hilang entah ke mana. Mungkinkah hanya karena Noel tidak hadir lalu aku merasakan kesepian yang amat sangat? Untuk membunuh kesepian itu, aku menghidupkan televisi. Aku memindah-mindahkan saluran hingga aku berhenti di saluran berita terbaru dari salah satu stasiun televisi.
“Pesawat penumpang dari Palembang sore ini mendarat di bandara dan mengalami kecelakaan. Lima penumpang dinyatakan tewas. Beberapa penumpang mengalami luka berat dan ringan. Berita selengkapnya, dapat kita dengar melalui kru kami yang telah tiba di tempat kejadian….”
Seperti disambar petir aku mendengar berita itu. Berita selanjutnya adalah nama-nama penumpang yang meninggal. Aku membuka telinga lebar-lebar dan mataku melotot di layer televisi.
“Nama-nama penumpang tewas yang telah diidentifikasi adalah: 1. ….., 2. …., 3. Noel …., 4. …., 5. ….. “
“Noel? Noel? Benarkah Noel?” tanyaku. “Mama….Mama!! Noel Ma … Noel ….” Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Aku menangis sejadi-jadinya si pangkuan Mama.
********
Mama dan aku menuju rumah Noel. Jenazahnya sudah dibawa ke rumah dan akan dimakamkan. Papa dan Mama Noel tidak ada di rumah. Mamanya mengalami luka berat. Papanya menunggui di rumah sakit. Hanya saudara-saudara yang berada di rumah dan mengurus acara pemakamannya. Aku tidak dapat lagi berpikir. Yang ada adalah kekosongan. Mama merangkulku. Papa tidak dapat pergi bersama kami karena harus menunggui ujian di sekolah.
Sanak keluarga menyambut kami dan mempersilakan kami masuk. Jika tidak keberatan, kami diperbolehkan melihat jenazahnya karena peti belum ditutup. Aku memberanikan diri maju ke peti jenazah sambil didampingi Mama. Aku melihat orang yang selama ini menemani berlatih di paduan suara dan menunggu bis yang membawa kami pulang, tidak bergerak di dalam peti. Wajahnya memang tidak rusak akibat kecelakaan itu. Masih sama seperti yang biasanya kulihat. Ada tahi lalat di sudut mata kirinya. Tahi lalat itu menambah unik wajah yang senantiasa tersenyum padaku sejak kumengenalnya. Mama ikut mendekati peti jenazah. Mama melihat wajahnya dalam-dalam. Lalu mata Mama berhenti di tahi lalat pada sudut kiri mata Noel. Mama terkejut, tidak dapat berkata-kata, lalu ia menangis tersedu-sedu seraya merangkul tubuh Noel yang sudah kaku, sambil berteriak histeris ia berkata, “Anakku!!! Anakku!!!!”. Sesaat kemudian, Mama tidak sadarkan diri.
********
“Oh, hai, aku Tirza. Aku ambil sastra Inggris.”
“Kamu lahir di Surabaya, Tirza?”
“Iya. Kalau kamu?”
“Oh, aku dari Palembang. Orang tuaku baru saja pindah ke Surabaya, tugas papaku dipindah ke sini.”
“O, begitu ya.. bagaimana Surabaya menurutmu?”
“Yaa.. menarik untuk dieksplorasi ha ha ha…”
“Suka nyanyi ya?” tanyaku.
“Iya. Dari kecil aku nyanyi dan selalu ikut kelompok paduan suara.”
Aku membayangkan percakapanku dengan Noel di kampus tadi saat kami selesai berlatih paduan suara. Aku baru saja masuk perguruan tinggi. Sesuai keinginanku sejak kecil, aku masuk ke sastra Inggris di salah satu perguruan tinggi di kota kelahiranku. Papa dan mama sangat mendukung pilihanku. Lagipula mereka memang sudah lama mempersiapkan biaya pendidikan agar aku bisa meneruskan ke perguruan tinggi.
Kami memang bukan keluarga kaya. Papaku, guru sekolah menengah swasta. Selain mengajar di sekolah, ia juga memberi les privat kepada anak-anak di luar jam kerjanya di sekolah. Papa kadang pulang larut malam karena dia memberi les dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Tetapi dia menikmati pekerjaannya.
Mama memang tidak berpendidikan tinggi, tetapi dia orang yang ulet dan tekun. Dia pernah mengikuti kursus menjahit dan dia menekuni hingga ia menjadi penjahit baju yang lumayan laris. Langganannya selalu datang tiap hari. Dari hasil jahitannya, Mama mendapatkan imbalan yang cukup untuk membantu penghasilan keluarga. Aku anak tunggal mereka. Kadang aku merasa kesepian walau aku punya banyak teman dekat. Papa dan mama sering terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku mengalihkan rasa sepiku dengan aktif mengikuti organisai di sekolah. Sekarang, setelah aku di universitas, aku tertarik bergabung di anggota paduan suara kampusku. Aku tidak memiliki keahlian khusus menyanyi, tetapi Mama suka sekali bernyanyi khususnya saat ia sibuk dengan pekerjaan menjahitnya atau pekerjaan rumah tangga yang lain.
“Tirza, Bantu Mama sebentar, Nak!” seru Mama. “Ah, sedang melamun ya?” kata Mama lagi.
“Eh, Mama, bikin kaget aja! Ada apa, Ma!”
“Bantu Mama memasang kancing-kancing baju ini ya. Besok baju ini mau diambil Tante Mirna.”
“OK, Bos!” jawabku. Aku memang sering membantu Mama kalau aku senggang.
“Bagaimana latihan paduan suara tadi? Senang tidak?” tanya Mama.
“Lumayan, Ma. Banyak kenalan baru dari fakultas yang lain…” jawabku.
“Hmm baguslah…Pasti ada yang menarik perhatianmu, ya?” tanya Mama.
“Ah, Mama …tahu juga…yaaa… ya iya sih… Noel namanya dari fakultas psikologi semester 5, pindahan dari Palembang. Orang tuanya ditugaskan pindah ke Surabaya.” ceritaku.
********
“Ma, aku nanti pulang kuliah langsung latihan paduan suara, ya!” teriakku sambil kucium pipinya.
“Ya, hati-hati ya!” jawab Mama sambil melambaikan tangan.
Waktu kuliah hari itu terasa sangat lama dan menjemukan. Aku sedikit tidak sabar ingin mengakhirinya. Segera setelah kuliah selesai, aku berjalan cepat-cepat menuju tempat latihan paduan suara. Di tengah jalan, di depan gedung fakultas psikologi, kulihat Noel sedang keluar dari gedung. Dia melihatku, lalu bergegas menyambutku. Matanya berbinar, rambutnya yang dibiarkan agak panjang sebahu berkibar diterpa angin sore itu.
“Hai Tirza, mau latihan ya?”
“Iya” jawabku singkat seraya tersenyum.
“Bareng yuk!” ajaknya lalu berjalan di sisiku.
Tidak ada kata-kata yang terucap tetapi aku merasakan nyaman ada di dekatnya dan dia di dekatku. Aku merasa dia bukan orang yang baru kukenal tetapi seolah orang yang sudah lama kukenal.
Latihan selama satu jam terasa cepat bagiku. Ketika aku akan pulang, Noel kembali menghampiriku, katanya, “Kita satu arah, jadi bisa menunggu bis sama-sama.”
“OK aja” jawabku. Kemudian kami berjalan menuju tempat perhentian bis di luar kampus.
“Gak terasa ya, kita latihan sudah 3 bulan.” Tiba-tiba, suaranya memecah keheningan di antara langkah-langkah kami.
“Iya. Minggu depan kita sudah harus tampil di acara Dies Natalis universitas.” Jawabku.
“Ya, dan hari Rabu kita harus latihan yang terakhir sebelum tampil.” Tambahnya.
“Lahir dan besar di Palembang?” tanyaku pada Noel.
Ia menggeleng. Setelah menghela nafas, Noel melanjutkan, “Aku tidak dilahirkan di Palembang, aku lahir di Banjarmasin. Seperti yang kau tahu, orang tuaku sering ditugaskan ke berbagai kota untuk beberapa waktu lamanya. Sebenarnya mereka bukan orang tuaku…” katanya dengan suara sedikit bergetar.
“Oh, maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman dengan pertanyaanku tadi.” kataku menyesal.
“Gak apa. Aku tidak pernah bercerita tentang hal ini kepada orang lain, juga kepada teman-teman dekatku. Tetapi denganmu, entah mengapa aku ingin menceritakannya. Yah, orang tuaku yang sekarang adalah orang tua angkat. Mereka merawatku sejak aku masih bayi. Kebetulan memang mereka tidak mempunyai anak dan mereka mengharapkan kehadiran seorang anak. Orang tua kandungku? Aku tidak tahu siapa dan di mana mereka. Menurut cerita papa mama angkatku, aku dititipkan oleh ibu kandungku ketika aku masih berusia beberapa hari. Orang tua kandungku tinggal tidak jauh dari rumah papa mama angkatku. Orang tua kandungku adalah orang miskin. Ayah kandungku buruh di proyek bangunan, ibuku tidak bekerja. Saat usia kandungan ibuku 7 bulan, ayah tiba-tiba mengalami kecelakaan di proyek tempat ia bekerja yang menyebabkan ia kehilangan nyawanya. Ibu sangat terkejut dengan kejadian itu. Ia sangat terpukul, sedih, dan putus asa. Kondisi emosinya yang tidak stabil itu membuat kondisi fisiknya sangat lemah dan akibatnya aku lahir sebelum genap waktunya. Uang santunan kematian ayah dari perusahaan tempat ayah bekerja sebagai buruh digunakan ibu untuk biaya kelahiran dan karena kondisiku masih sangat lemah, aku harus dirawat di rumah sakit. Ibu sangat bingung bagaimana mendapatkan biaya tambahan untuk perawatanku. Akhirnya dengan berhutang dari tetangga dan saudara, ibu dapat membayar biaya perawatanku di rumah sakit.
Hutang yang menumpuk, biaya hidup di depan mata, serta kepedihan karena kematian ayah, membuat ibu memutuskan untuk mencari pekerjaan di luar daerah kami selain untuk menghapus kenangan akan ayah. Aku yang saat itu masih sangat lemah, mengingat ibu tidak memiliki sanak saudara di luar kota, ibu nekad menyerahkan aku kepada papa mamaku sekarang. Ia memohon dengan sangat agar mereka mau merawat aku seperti anak mereka sendiri, sampai ibu dapat menjemputku.
“Oh, ibu kandungmu pasti sangat berat memutuskan hal itu.” kataku.
“Ya … “ jawab Noel.
“Pasti berat untukmu mengetahui kenyataan bahwa kau bukan anak kandung mereka, “tanyaku.
“Mulanya iya. Dan mulanya aku merasa aku ini tidak dikehendaki oleh ibu. Ada rasa sakit di dalam dadaku ini karena aku merasa dibuang oleh orang tuaku.” jawab Noel.
“Hmm yah.. pasti sakit sekali rasanya. Apa rasa sakit itu masih ada hingga sekarang?” tanyaku.
“Tidak. Seiring berjalannya waktu dan karena pemahaman yang diberikan papa mama angkatku, berangsur perasaan itu hilang. Aku tidak tahu di mana ibu kandungku sekarang. Papa mama angkatku sering sekali pindah tugas. Mungkin, ibu pernah mencari kami di tempat kelahiranku tetapi kami pasti sudah tidak ada di sana lagi. Aku merasa ibu pasti juga sangat bingung dan merasa bersalah saat itu. Kalau aku bisa bertemu kembali dengannya, aku hanya ingin katakan kalau aku tidak pernah membencinya. Aku memaafkannya dan aku mengasihinya.” jelas Noel dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku beruntung karena kau percayai dengan menceritakan tentang masa lalumu.” kataku. “Tapi aku juga kagum karena kau bisa menghilangkan rasa sakit di hatimu dengan rasa kasih dan memaafkan.” tambahku lagi.
“Kau lebih beruntung Tirza. Kau punya ayah dan ibu kandung yang selalu di sampingmu.” kata Noel.
Aku mengangguk pelan, sambil memberi isyarat kalau bis yang kami tunggu sudah datang.
********
“Ma, besok hari Sabtu, paduan suara kampus akan mengisi acara di Dies Natalis. Aku dapat undangan untuk 2 orang. Papa dan mama harus hadir ya melihat penampilanku. Sekaian kukenalkan pada Noel!” pintaku sambil kukerlingkan mata pada Mama.
“Hmm…paduan suaranya atau Noelnya yang penting ya?” tanya Mama menggodaku.
“Ah Mama, pilih sendirilah mana yang penting ha ha ha” jawabku sambil berlari menghampiri hapeku yang berbunyi.
“Halo Noel…ada apa ya?” tanyaku sambil menjawab panggilannya.
“Tirza, aku pamit ya, aku diminta menemani Mama ke Palembang. Saudara kami ada yang sakit keras, dan Mama harus menengok. Pekerjaan Papa tidak bisa ditinggal.” Jelas Noel bertubi-tubi. Tampaknya dia terburu-buru.
“Aku sudah di bandara sekarang, pesawat kami akan berangkat satu jam lagi. Tapi aku hanya sebentar saja. Sebelum acara Dies Natalis, aku pasti sudah kembali dan kita akan tampil bersama. OK Tirza, bye dulu yaaa…” kata Noel.
“Ya, ya, … hati-hati ya.. dan sampai jumpa hari Sabtu ya, bye…” jawabku.
Hari-hari menjelang Dies Natalis kuhabiskan bersama Nina dan Tania untuk mempersiapkan perlengkapan paduan suara kami. Kami membeli perlengkapan ini dan itu, khususnya untuk pakaian seragam yang digunakan karena ada sedikit perombakan seragam dari seragam paduan suara yang lama.
“Hai Tirza, bagaimana Noel, sudah kirim kabar ke kamu belum?” tanya Nina.
“Belum. Mungkin dia sibuk dengan mamanya, kan saudara mereka sakit.” jawabku.
“Tapi dia pasti bisa datang kan?” tanya Tania memastikan.
“Iya, dia bilang begitu.” kataku.
Sehari sebelum acara Dies Natalis, Noel mengirimkan SMS mengatakan bahwa dia pasti bisa hadir di acara dan kami akan tampil bersama. Pesawatnya akan berangkat Sabtu pagi, sementara acara di Sabtu sore.
Saat yang kunantikan pun tiba. Sabtu pagi aku sudah sibuk mempersiapkan baju seragam dan pernak-pernik yang lain. Hingga tengah hari aku baru sadar bahwa seharusnya Noel sudah tiba. “Ah, mungkin pesawatnya cancel beberapa jam. Biasa kan begitu.” pikirku menenangkan diriku sendiri.
Tiga jam menjelang acara, hapeku berdering. Noel memanggil. “Halo, halo, Tirza ya…aduh.. pesawatku belum bisa diterbangkan hingga saat ini. Aku mungkin tidak bisa hadir di acara. Tolong kamu sampaikan maafku kepada rekan-rekan yang lain. Ini benar-benar mendadak dan tidak terduga.”
“Ya, Noel. Tapi kamu tidak apa-apa kan? Nanti aku sampaikan kepada rekan-rekan yang lain. Tidak lengkap rasanya tanpa kehadiranmu tapi apa mau dikata.” jawabku.
“Aku baik-baik saja Tirza. Nah, sekarang, siap-siaplah untuk tampil sebaik-baiknya!” kata Noel memberiku semangat.
“OK Noel, sampai ketemu lagi ya…Nanti aku cerita padamu deh bagaimana penampilan kita..” jawabku.
“OK…bye…”kata Noel sambil menutup telpon.
Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Penampilan paduan suara kami pun mendapat sambutan yang hangat. Memang aku merasa sedikit tidak enak karena tidak ada Noel bersama kami. Papa dan mama hadir. Mereka juga sedikit kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Noel. Walaupun kami sering bersama di kampus. Noel belum sempat sekali juga ke rumahku. Kesibukannya memang cukup tinggi. Dia senang mengikuti kegiatan-kegiatan sosial.
Setibanya di rumah, aku merasa kesepian menyelimuti hatiku. Aku merasa ada sebagian dariku hilang entah ke mana. Mungkinkah hanya karena Noel tidak hadir lalu aku merasakan kesepian yang amat sangat? Untuk membunuh kesepian itu, aku menghidupkan televisi. Aku memindah-mindahkan saluran hingga aku berhenti di saluran berita terbaru dari salah satu stasiun televisi.
“Pesawat penumpang dari Palembang sore ini mendarat di bandara dan mengalami kecelakaan. Lima penumpang dinyatakan tewas. Beberapa penumpang mengalami luka berat dan ringan. Berita selengkapnya, dapat kita dengar melalui kru kami yang telah tiba di tempat kejadian….”
Seperti disambar petir aku mendengar berita itu. Berita selanjutnya adalah nama-nama penumpang yang meninggal. Aku membuka telinga lebar-lebar dan mataku melotot di layer televisi.
“Nama-nama penumpang tewas yang telah diidentifikasi adalah: 1. ….., 2. …., 3. Noel …., 4. …., 5. ….. “
“Noel? Noel? Benarkah Noel?” tanyaku. “Mama….Mama!! Noel Ma … Noel ….” Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Aku menangis sejadi-jadinya si pangkuan Mama.
********
Mama dan aku menuju rumah Noel. Jenazahnya sudah dibawa ke rumah dan akan dimakamkan. Papa dan Mama Noel tidak ada di rumah. Mamanya mengalami luka berat. Papanya menunggui di rumah sakit. Hanya saudara-saudara yang berada di rumah dan mengurus acara pemakamannya. Aku tidak dapat lagi berpikir. Yang ada adalah kekosongan. Mama merangkulku. Papa tidak dapat pergi bersama kami karena harus menunggui ujian di sekolah.
Sanak keluarga menyambut kami dan mempersilakan kami masuk. Jika tidak keberatan, kami diperbolehkan melihat jenazahnya karena peti belum ditutup. Aku memberanikan diri maju ke peti jenazah sambil didampingi Mama. Aku melihat orang yang selama ini menemani berlatih di paduan suara dan menunggu bis yang membawa kami pulang, tidak bergerak di dalam peti. Wajahnya memang tidak rusak akibat kecelakaan itu. Masih sama seperti yang biasanya kulihat. Ada tahi lalat di sudut mata kirinya. Tahi lalat itu menambah unik wajah yang senantiasa tersenyum padaku sejak kumengenalnya. Mama ikut mendekati peti jenazah. Mama melihat wajahnya dalam-dalam. Lalu mata Mama berhenti di tahi lalat pada sudut kiri mata Noel. Mama terkejut, tidak dapat berkata-kata, lalu ia menangis tersedu-sedu seraya merangkul tubuh Noel yang sudah kaku, sambil berteriak histeris ia berkata, “Anakku!!! Anakku!!!!”. Sesaat kemudian, Mama tidak sadarkan diri.
********
1/5/09
MAAFKAN AKU
MAAFKAN AKU
Aku malu pada diriku sendiri. Amat sangat malu. Aku…. Aku… menyesal… sungguh….. amat menyesal. Aku sendiri tidak tahu mengapa dulu aku…. Mengapa dulu aku melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Sekarang, apa yang harus kutanggung terasa amat berat…..Ya,… usia kandunganku hampir sembilan bulan … dan aku lari dari rumah orangtuaku bersama kekasihku. Bagaimana bapak dan emak, demikian biasa aku memanggil orangtuaku. Bagaimana Yono dan Fitri adik-adikku?
Aku, Yati, anak sulung dari tiga bersaudara. Setahun yang lalu aku lulus SMEA. Aku sadar sulitnya mencari pekerjaan saat ini maka kuterima saja pekerjaan di sebuah wartel kecil di dekat rumahku. Pikirku, lebih baik bekerja apa saja daripada menganggur. Toh, aku tidak bias berharap mendapat pekerjaan di perusahaan elit. Siapa yang peduli pada anak seorang pengemudi becak dan buruh cuci pakaian. Pekerjaan yang ditekuni bapak dan emak untuk membesarkan kami bertiga. Yono, adikku, tahun ini akan lulus STM. Entah akan bekerja di mana dia. Aku dengar, tetanggaku akan mengajaknya bekerja sebagai kondektur bis kota. Adikku yang bungsu, Fitri, masih duduk di kelas 4 SD. Dia sakit-sakitan. Sering keluar masuk rumah sakit, menambah beban bapak dan emak. Dokter mengatakan dia menderita leukemia.
Dari pekerjaanku di wartel, aku sedikit mendapatkan uang. Aku juga mendapat kenalan-kenalan baru, teman-teman baru. Salah satu pengunjung tetap wartel tempat aku bekerja adalah Wawan. Seorang pemuda perantau dari Semarang yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil, tak jauh dari rumahku. Hubungan kami semakin dekat, bapak dan emak pun tahu kalau kami pacaran. Kadang, di waktu liburku, Wawan mengajakku pergi jalan-jalan. Kadang kami ke Tawangmangu atau Baron. Aku menikmati saat-saat itu. Dan fantasiku melambung jauh…. hingga aku terlena dan suatu hari hal yang tidak sepantasnya kami lakukan…..
Aku ketakutan…. tetapi semua sudah terlambat. Masih beruntung Wawan tidak lari dari tanggung jawab. Tapi aku tidak mampu mengakuinya di depan bapak dan emak. Apalagi, Fitri sedang dirawat di rumah sakit. Satu bulan, dua bulan, ….. lama kelamaan usia kandunganku bertambah. Bapak dan emak tidak sempat memperhatikan perubahan fisikku karena mereka disibukkan dengan kondisi Fitri yang makin memburuk.
Memasuki bulan kelima, aku tidak sanggup lagi. Aku mengajak Wawan untuk pergi meninggalkan rumah orangtuaku. Kami hanya mampu menyewa sebuah kamar kecil di perkampungan kumuh jauh di sebelah utara kota. Hari kelahiran bayiku makin lama makin dekat. Aku tidak mempu mempersiapkan banyak hal untuk anakku. Aku hanya mampu membeli beberapa helai pakaian bayi. “Maafkan ibumu ini, Nak”, ratapku tiap kali aku mengingat bahwa aku tidak dapat menyambut kelahiran anakku dengan selayaknya.
Kelahiran itu semakin mendekat dan hari ini Wawan sengaja tidak bekerja, takut kalau tiba-tiba aku melahirkan. Malamnya, aku dilarikan Wawan ke bidang terdekat. Aku sudah tidak tahan lagi. Menjelang pagi, bayiku lahir dengan selamat. Ia seorang perempuan. Badannya mungil. Aku bahagia melihat anakku. Tetapi jauh di dalam hatiku, ada rasa sakit yang tidak dapat kuingkari. Baying wajah bapak dan emak muncul dalam benakku. Takut, sedih, menyesal. Semua teraduk menjadi satu.
Setelah beberapa hari, aku diizinkan pulang oleh bidang yang merawatku. Kudekap bayiku erat-erat. Aku dan Wawan pulang ke pondokan kami. Ketika hamper sampai di pondokan. Kakiku berhenti melangkah.
“Ada apa?”, tanya Wawan.
“…Ada orang berdiri di depan pondokan kita….. Aku…. Aku tidak salah lihat, Wan…. Bukankah…. Bukankah itu Emak?”, kataku tergagap.
Aku mengajak Wawan berbelok arah untuk menghindari Emak. Aku takut bertemu dengannya apalagi dengan bayi dalam gendonganku.
“…Tunggu!!!! Jangan pergi!!! Yati, Yati, ini Emak, Nak!.... Jangan pergi!!!” teriak Emak berulang-ulang. Emak berjalan tergesa-gesa menyusulku. Ketika ia sampai di hadapanku, dia sangat terkejut melihat bayi dalam gendonganku…. Lalu dia pingsan…..
Beberapa tetangga menolong kami mengangkat Emak masuk ke dalam pondokan. Selang beberapa waktu, ia siuman. Emak menangis. Dengan terbata-bata ia berbicara di antara isak tangisnya….
“…Nak, kenapa kau lakukan ini padaku…. pada bapakmu….Kau tahu, adikmu Fitri sakit-sakitan… Setelah kau pergi dari rumah, seminggu kemudian dia juga pergi…. untuk selamanya…Sakitnya hatiku ini……..kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupku…. Bapakmu sudah seperti orang gila…Dia hanya duduk melamun di depan rumah…. sesekali saja ia makan…Aku mencarimu kemana-mana… hampir putus harapanku…. Beruntung, tetangga sebelah rumah memberitahuku…. Dia pernah melihatmu berjalan di sekitar daerah ini…. Berhari-hari aku berjalan mengitari daerah ini…. Kemarin, aku sampai di sini. Tetanggamu mengatakan sudah beberapa hari kau tidak pulang…. Aku masih berharp kau kembali…. Aku menunggumu sejak kemarin…..” Emak menghela nafas panjang…..
“….Nak, pulang ya…. Pulang….”, pinta Emak berkali-kali. Air matanya deras membasahi wajahnya yang tampak kusut dan lelah.
Aku menangis sejadi-jadinya di pangkuan Emak. Tangannya membelai lembut kepalaku. Air matanya deras mengalir membasahi wajahku. Air mata itu seakan menghapus semua rasa sakit dan pedih yang selama ini menyesak di hatiku…. Tak ada kata yang mampu kuucapkan…. Tapi di hatiku berulang-ulang kukatakan “maafkan aku….. maafkan aku…. Dan aku juga tahu Emak sudah melakukannya ……”
Aku malu pada diriku sendiri. Amat sangat malu. Aku…. Aku… menyesal… sungguh….. amat menyesal. Aku sendiri tidak tahu mengapa dulu aku…. Mengapa dulu aku melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Sekarang, apa yang harus kutanggung terasa amat berat…..Ya,… usia kandunganku hampir sembilan bulan … dan aku lari dari rumah orangtuaku bersama kekasihku. Bagaimana bapak dan emak, demikian biasa aku memanggil orangtuaku. Bagaimana Yono dan Fitri adik-adikku?
Aku, Yati, anak sulung dari tiga bersaudara. Setahun yang lalu aku lulus SMEA. Aku sadar sulitnya mencari pekerjaan saat ini maka kuterima saja pekerjaan di sebuah wartel kecil di dekat rumahku. Pikirku, lebih baik bekerja apa saja daripada menganggur. Toh, aku tidak bias berharap mendapat pekerjaan di perusahaan elit. Siapa yang peduli pada anak seorang pengemudi becak dan buruh cuci pakaian. Pekerjaan yang ditekuni bapak dan emak untuk membesarkan kami bertiga. Yono, adikku, tahun ini akan lulus STM. Entah akan bekerja di mana dia. Aku dengar, tetanggaku akan mengajaknya bekerja sebagai kondektur bis kota. Adikku yang bungsu, Fitri, masih duduk di kelas 4 SD. Dia sakit-sakitan. Sering keluar masuk rumah sakit, menambah beban bapak dan emak. Dokter mengatakan dia menderita leukemia.
Dari pekerjaanku di wartel, aku sedikit mendapatkan uang. Aku juga mendapat kenalan-kenalan baru, teman-teman baru. Salah satu pengunjung tetap wartel tempat aku bekerja adalah Wawan. Seorang pemuda perantau dari Semarang yang bekerja sebagai buruh pabrik tekstil, tak jauh dari rumahku. Hubungan kami semakin dekat, bapak dan emak pun tahu kalau kami pacaran. Kadang, di waktu liburku, Wawan mengajakku pergi jalan-jalan. Kadang kami ke Tawangmangu atau Baron. Aku menikmati saat-saat itu. Dan fantasiku melambung jauh…. hingga aku terlena dan suatu hari hal yang tidak sepantasnya kami lakukan…..
Aku ketakutan…. tetapi semua sudah terlambat. Masih beruntung Wawan tidak lari dari tanggung jawab. Tapi aku tidak mampu mengakuinya di depan bapak dan emak. Apalagi, Fitri sedang dirawat di rumah sakit. Satu bulan, dua bulan, ….. lama kelamaan usia kandunganku bertambah. Bapak dan emak tidak sempat memperhatikan perubahan fisikku karena mereka disibukkan dengan kondisi Fitri yang makin memburuk.
Memasuki bulan kelima, aku tidak sanggup lagi. Aku mengajak Wawan untuk pergi meninggalkan rumah orangtuaku. Kami hanya mampu menyewa sebuah kamar kecil di perkampungan kumuh jauh di sebelah utara kota. Hari kelahiran bayiku makin lama makin dekat. Aku tidak mempu mempersiapkan banyak hal untuk anakku. Aku hanya mampu membeli beberapa helai pakaian bayi. “Maafkan ibumu ini, Nak”, ratapku tiap kali aku mengingat bahwa aku tidak dapat menyambut kelahiran anakku dengan selayaknya.
Kelahiran itu semakin mendekat dan hari ini Wawan sengaja tidak bekerja, takut kalau tiba-tiba aku melahirkan. Malamnya, aku dilarikan Wawan ke bidang terdekat. Aku sudah tidak tahan lagi. Menjelang pagi, bayiku lahir dengan selamat. Ia seorang perempuan. Badannya mungil. Aku bahagia melihat anakku. Tetapi jauh di dalam hatiku, ada rasa sakit yang tidak dapat kuingkari. Baying wajah bapak dan emak muncul dalam benakku. Takut, sedih, menyesal. Semua teraduk menjadi satu.
Setelah beberapa hari, aku diizinkan pulang oleh bidang yang merawatku. Kudekap bayiku erat-erat. Aku dan Wawan pulang ke pondokan kami. Ketika hamper sampai di pondokan. Kakiku berhenti melangkah.
“Ada apa?”, tanya Wawan.
“…Ada orang berdiri di depan pondokan kita….. Aku…. Aku tidak salah lihat, Wan…. Bukankah…. Bukankah itu Emak?”, kataku tergagap.
Aku mengajak Wawan berbelok arah untuk menghindari Emak. Aku takut bertemu dengannya apalagi dengan bayi dalam gendonganku.
“…Tunggu!!!! Jangan pergi!!! Yati, Yati, ini Emak, Nak!.... Jangan pergi!!!” teriak Emak berulang-ulang. Emak berjalan tergesa-gesa menyusulku. Ketika ia sampai di hadapanku, dia sangat terkejut melihat bayi dalam gendonganku…. Lalu dia pingsan…..
Beberapa tetangga menolong kami mengangkat Emak masuk ke dalam pondokan. Selang beberapa waktu, ia siuman. Emak menangis. Dengan terbata-bata ia berbicara di antara isak tangisnya….
“…Nak, kenapa kau lakukan ini padaku…. pada bapakmu….Kau tahu, adikmu Fitri sakit-sakitan… Setelah kau pergi dari rumah, seminggu kemudian dia juga pergi…. untuk selamanya…Sakitnya hatiku ini……..kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupku…. Bapakmu sudah seperti orang gila…Dia hanya duduk melamun di depan rumah…. sesekali saja ia makan…Aku mencarimu kemana-mana… hampir putus harapanku…. Beruntung, tetangga sebelah rumah memberitahuku…. Dia pernah melihatmu berjalan di sekitar daerah ini…. Berhari-hari aku berjalan mengitari daerah ini…. Kemarin, aku sampai di sini. Tetanggamu mengatakan sudah beberapa hari kau tidak pulang…. Aku masih berharp kau kembali…. Aku menunggumu sejak kemarin…..” Emak menghela nafas panjang…..
“….Nak, pulang ya…. Pulang….”, pinta Emak berkali-kali. Air matanya deras membasahi wajahnya yang tampak kusut dan lelah.
Aku menangis sejadi-jadinya di pangkuan Emak. Tangannya membelai lembut kepalaku. Air matanya deras mengalir membasahi wajahku. Air mata itu seakan menghapus semua rasa sakit dan pedih yang selama ini menyesak di hatiku…. Tak ada kata yang mampu kuucapkan…. Tapi di hatiku berulang-ulang kukatakan “maafkan aku….. maafkan aku…. Dan aku juga tahu Emak sudah melakukannya ……”
YOS
YOS
“Tembak aja, An!”, kata Rosi.
“Iya, An, dongkrak aja!”, sambung Tina. “Kalau aku jadi kamu, dia udah jadi pacarku sejak dulu. Orang seperti dia, kelamaan kalau tidak didongkrak!”, kata Tina lagi.
“Ah, kamu aja yang dongkrak, Tin! Aku terima hasilnya aja, he he he…. “, jawabku sekenanya.
“Huuuuu…. Enak aja!”, sahut Tina.
“Atau suruh dia masukin proposal dulu?”, kataku asal-asalan.
“Ha? Proposal? Ada-ada saja kamu An”, sahut Rosi.
“Lo, sekarang ‘kan zamannya proposal. Mau bikin proyek, masukin proposal. Mau bikin program, buat proposal. Mau nulis skripsi, ngumpulin proposal. Apalagi ini ‘kan proyek masa depan dan seumur hidup, jadi mestinya pake proposal juga…ha ha ha”, kataku lalu disambung tertawa kami bertiga.
Pembicaraan di kantin kampus siang tadi masih terekam jelas dalam benakku. Kemudian aku juga teringat dengan cerita Tina beberapa hari yang lalu.
“Eh, An, tahu ‘gak waktu rapat evaluasi panitia Dies Natalis minggu lalu, Yos memuji-mujimu di depan teman-teman yang lain, lo…”, cerita Tina antusias.
“Masak sih?”, tanyaku tidak percaya. “Aku ‘kan hanya membantu dia saja karena kebetulan tim multimedia dia ada yang berhalangan hadir”, kataku.
“Iya, An. Tapi dengan bantuanmu sebagai operator slide proyektor multimedia, itu sudah sangat membantu keberlangsungan acara, khususnya tugas-tugas dia”, tegas Tina.
“Udahlah An, kamu tunggu apalagi sih? Tembak aja dia. Kalian cocok kok. Sama-sama dapat saling melengkapi. Yos orangnya memang ramah, sabar, tanggung jawab, tetapi dia membutuhkan sikap tegasmu. Kamu juga ramah tetapi kadang cenderung pendiam, kadang kamu membutuhkan kesabarannya untuk mengatasi hal-hal yang genting. Tuh, kan cocok sebenarnya. Jadi tunggu apalagi.”, Tina menjelaskan panjang lebar.
Kalau aku memikirkan perkataan Rosi dan Tina, memang ada benarnya. Kami bertemu di persekutuan mahasiswa di kampus kami. Yos dari fakultas informatika sementara aku di sastra Inggris. Keahliannya di bidang komputer dibanding dengan teman-teman seangkatannya memang tidak dipungkiri lagi. Mulanya, kami dekat hanya karena aku sering bertanya soal komputer. Kalau laptopku ada masalah, dia akan senang hati membetulkannya. Bukan hanya itu, dalam tugas-tugasku di persekutuan mahasiswa atau tugas-tugas kampus, Yos akan selalu menolong setiap kali aku mengalami kesulitan. Seolah-olah, ia akan selalu di sana setiap kali aku membutuhkannya.
Semakin lama pertemanan kami semakin dekat. Tiap-tiap kali, ketika dia sedang membetulkan program komputer di laptopku atau membantuku menyelesaikan tugas, aku merasakan matanya menatapku dalam. Mata itu seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi sangat sulit untuk diungkapkan. Tidak terasa empat tahun sudah pertemanan kami, tetapi tidak ada ucapan apa pun dari Yos, kecuali pandangan matanya yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Itulah sebabnya, teman-temanku membujukku agar aku yang memulai saja menanyakan pada Yos tentang pertemanan kami.
“An, mungkin Yos memang membutuhkan doronganmu agar ia dapat mengungkapkan isi hatinya. Aku yakin sekali dia sangat menyayangimu. Kalau tidak, untuk apa dia bela-belain tiap-tiap kali melakukan apa saja untukmu”, jelas Tina suatu hari.
“Ya, Tin, aku memang merasakannya tapi aku juga bingung bagaimana cara mendorong dia untuk mengatakannya”, jawabku.
“Eh, An, bagaimana caramu waktu dia akhirnya mengajakmu pergi ke pameran komputer di kampus kita waktu itu? Kalau tidak salah, kamu pancing-pancing dia dulu ‘kan dengan pertanyaan-pertanyaan sampai akhirnya dia menawarkan diri untuk menjemputmu? Nah, pakai cara seperti itu saja, bagaimana?”, usul Rosi.
“Entahlah….”, jawabku.
Semakin lama kupikirkan, aku semakin tidak mengerti apa yang sebaiknya harus kuperbuat. Tidak terasa, kesibukan kuliah di hari-hari menjelang ujian akhir hampir usai. Setelah itu, aku disibukkan dengan wisuda dan persiapanku untuk berangkat ke Australia. Aku beruntung mendapatkan bea siswa untuk mengambil master di bidang linguistik di Brisbane. Aku sangat sibuk menyiapkan apa saja yang kuperlukan untuk kepergianku ke Brisbane. Dan tanpa terasa, keberangkatanku tinggal beberapa hari lagi. Aku baru sadar kalau aku dan Yos sudah hampir empat bulan terakhir tidak bertemu. Kemana dia? Biasanya kami sering bertemu di kampus, ngobrol bersama, setidaknya kalau kami tidak bertemu di kampus, kami akan bertemu di alamat chatting kami atau berkirim SMS. Aku berusaha menghubunginya tetapi beberapa kali tidak mendapat respons. Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiranku.
Papa dan mama akan mengantarku ke bandara sebentar lagi. Sekali lagi aku memeriksa barang-barang bawaanku. Semuanya sudah lengkap. Hanya ada satu hal yang memberatkan hatiku. Yos. Kemana dia? Aku sudah menulis SMS berpamitan padanya tetapi tidak ada jawaban darinya. Ada rasa pedih di hatiku.
“An, ayo berangkat, Nak. Nanti kita terlambat.”, ajakan mama membuyarkan lamunanku.
Setelah mengurus surat-surat di bagian imigrasi, aku diantar papa dan mama ke ruang tunggu. Mereka tidak menemaniku hingga pesawat berangkat karena mereka harus segera ke kantor. Aku duduk di ruang tunggu menunggu waktu pemberangkatanku. Aku merasa sepi di tengah hiruk-pikuknya petugas bandara dan lalu-lalang orang. Ada yang mengobrol dengan sanak keluarga mereka sambil menunggu waktu. Ada yang masih sibuk menelpon rekan bisnis mereka sebelum mereka berangkat. Tiba-tiba, namaku dipanggil dengan lembut, “An…..”.
Aku menoleh ke arah suara itu…. dan…… “Yos, …..”, kataku tak percaya dengan siapa yang berdiri di depanku. “Ke mana saja selama ini?”, tanyaku.
“Maafkan aku….. Aku mendapat tawaran pekerjaan sebagai staf IT di Jakarta dan mereka memintaku membuat rancangan program. Aku sibuk mempersiapkannya hingga aku tidak sempat menghubungimu. Semua pesan-pesanmu lewat SMS aku terima. Maafkan aku, An… aku hanya ingin menyelesaikan rancangan program itu tepat waktu dan sesuai dengan kriteria mereka.”, jelas Yos perlahan.
Kulihat wajahnya. Dia tampak lebih kurus dan lelah.
“Yos, menurutmu, apakah kau merasakan sesuatu yang khusus dari pertemanan kita? Menurutmu, hendak kita bawa ke mana pertemanan ini?”, tanyaku sambil aku menantapnya dalam.
“Pesawat… dengan tujuan Brisbane akan segera diberangkatkan. Para penumpang yang masih berada di ruang tunggu harap segera menuju pesawat…”
Aku terhenyak. “Aku harus pergi, Yos. Itu pesawatku…”, kataku tergesa-gesa.
“An, …….. aku …. aku …..menyayangimu. Aku …. menunggumu di alamat chatting kita. Aku berjanji akan selalu di sana menunggumu. Jaga dirimu baik-baik. Hati-hati…”, terbata-bata Yos mengucapkan kalimat itu.
Aku mengangguk perlahan. Lalu kulambaikan tanganku padanya. Aku berlari menuju pesawat yang akan membawaku ke Brisbane. Aku tidak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuanku. Aku tidak sabar untuk menjumpai Yos di sana. Dan aku tidak sabar ingin mengabarkan kepada Rosi dan Tina bahwa Yos telah mengatakannya.
“Tembak aja, An!”, kata Rosi.
“Iya, An, dongkrak aja!”, sambung Tina. “Kalau aku jadi kamu, dia udah jadi pacarku sejak dulu. Orang seperti dia, kelamaan kalau tidak didongkrak!”, kata Tina lagi.
“Ah, kamu aja yang dongkrak, Tin! Aku terima hasilnya aja, he he he…. “, jawabku sekenanya.
“Huuuuu…. Enak aja!”, sahut Tina.
“Atau suruh dia masukin proposal dulu?”, kataku asal-asalan.
“Ha? Proposal? Ada-ada saja kamu An”, sahut Rosi.
“Lo, sekarang ‘kan zamannya proposal. Mau bikin proyek, masukin proposal. Mau bikin program, buat proposal. Mau nulis skripsi, ngumpulin proposal. Apalagi ini ‘kan proyek masa depan dan seumur hidup, jadi mestinya pake proposal juga…ha ha ha”, kataku lalu disambung tertawa kami bertiga.
Pembicaraan di kantin kampus siang tadi masih terekam jelas dalam benakku. Kemudian aku juga teringat dengan cerita Tina beberapa hari yang lalu.
“Eh, An, tahu ‘gak waktu rapat evaluasi panitia Dies Natalis minggu lalu, Yos memuji-mujimu di depan teman-teman yang lain, lo…”, cerita Tina antusias.
“Masak sih?”, tanyaku tidak percaya. “Aku ‘kan hanya membantu dia saja karena kebetulan tim multimedia dia ada yang berhalangan hadir”, kataku.
“Iya, An. Tapi dengan bantuanmu sebagai operator slide proyektor multimedia, itu sudah sangat membantu keberlangsungan acara, khususnya tugas-tugas dia”, tegas Tina.
“Udahlah An, kamu tunggu apalagi sih? Tembak aja dia. Kalian cocok kok. Sama-sama dapat saling melengkapi. Yos orangnya memang ramah, sabar, tanggung jawab, tetapi dia membutuhkan sikap tegasmu. Kamu juga ramah tetapi kadang cenderung pendiam, kadang kamu membutuhkan kesabarannya untuk mengatasi hal-hal yang genting. Tuh, kan cocok sebenarnya. Jadi tunggu apalagi.”, Tina menjelaskan panjang lebar.
Kalau aku memikirkan perkataan Rosi dan Tina, memang ada benarnya. Kami bertemu di persekutuan mahasiswa di kampus kami. Yos dari fakultas informatika sementara aku di sastra Inggris. Keahliannya di bidang komputer dibanding dengan teman-teman seangkatannya memang tidak dipungkiri lagi. Mulanya, kami dekat hanya karena aku sering bertanya soal komputer. Kalau laptopku ada masalah, dia akan senang hati membetulkannya. Bukan hanya itu, dalam tugas-tugasku di persekutuan mahasiswa atau tugas-tugas kampus, Yos akan selalu menolong setiap kali aku mengalami kesulitan. Seolah-olah, ia akan selalu di sana setiap kali aku membutuhkannya.
Semakin lama pertemanan kami semakin dekat. Tiap-tiap kali, ketika dia sedang membetulkan program komputer di laptopku atau membantuku menyelesaikan tugas, aku merasakan matanya menatapku dalam. Mata itu seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi sangat sulit untuk diungkapkan. Tidak terasa empat tahun sudah pertemanan kami, tetapi tidak ada ucapan apa pun dari Yos, kecuali pandangan matanya yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Itulah sebabnya, teman-temanku membujukku agar aku yang memulai saja menanyakan pada Yos tentang pertemanan kami.
“An, mungkin Yos memang membutuhkan doronganmu agar ia dapat mengungkapkan isi hatinya. Aku yakin sekali dia sangat menyayangimu. Kalau tidak, untuk apa dia bela-belain tiap-tiap kali melakukan apa saja untukmu”, jelas Tina suatu hari.
“Ya, Tin, aku memang merasakannya tapi aku juga bingung bagaimana cara mendorong dia untuk mengatakannya”, jawabku.
“Eh, An, bagaimana caramu waktu dia akhirnya mengajakmu pergi ke pameran komputer di kampus kita waktu itu? Kalau tidak salah, kamu pancing-pancing dia dulu ‘kan dengan pertanyaan-pertanyaan sampai akhirnya dia menawarkan diri untuk menjemputmu? Nah, pakai cara seperti itu saja, bagaimana?”, usul Rosi.
“Entahlah….”, jawabku.
Semakin lama kupikirkan, aku semakin tidak mengerti apa yang sebaiknya harus kuperbuat. Tidak terasa, kesibukan kuliah di hari-hari menjelang ujian akhir hampir usai. Setelah itu, aku disibukkan dengan wisuda dan persiapanku untuk berangkat ke Australia. Aku beruntung mendapatkan bea siswa untuk mengambil master di bidang linguistik di Brisbane. Aku sangat sibuk menyiapkan apa saja yang kuperlukan untuk kepergianku ke Brisbane. Dan tanpa terasa, keberangkatanku tinggal beberapa hari lagi. Aku baru sadar kalau aku dan Yos sudah hampir empat bulan terakhir tidak bertemu. Kemana dia? Biasanya kami sering bertemu di kampus, ngobrol bersama, setidaknya kalau kami tidak bertemu di kampus, kami akan bertemu di alamat chatting kami atau berkirim SMS. Aku berusaha menghubunginya tetapi beberapa kali tidak mendapat respons. Setumpuk pertanyaan memenuhi pikiranku.
Papa dan mama akan mengantarku ke bandara sebentar lagi. Sekali lagi aku memeriksa barang-barang bawaanku. Semuanya sudah lengkap. Hanya ada satu hal yang memberatkan hatiku. Yos. Kemana dia? Aku sudah menulis SMS berpamitan padanya tetapi tidak ada jawaban darinya. Ada rasa pedih di hatiku.
“An, ayo berangkat, Nak. Nanti kita terlambat.”, ajakan mama membuyarkan lamunanku.
Setelah mengurus surat-surat di bagian imigrasi, aku diantar papa dan mama ke ruang tunggu. Mereka tidak menemaniku hingga pesawat berangkat karena mereka harus segera ke kantor. Aku duduk di ruang tunggu menunggu waktu pemberangkatanku. Aku merasa sepi di tengah hiruk-pikuknya petugas bandara dan lalu-lalang orang. Ada yang mengobrol dengan sanak keluarga mereka sambil menunggu waktu. Ada yang masih sibuk menelpon rekan bisnis mereka sebelum mereka berangkat. Tiba-tiba, namaku dipanggil dengan lembut, “An…..”.
Aku menoleh ke arah suara itu…. dan…… “Yos, …..”, kataku tak percaya dengan siapa yang berdiri di depanku. “Ke mana saja selama ini?”, tanyaku.
“Maafkan aku….. Aku mendapat tawaran pekerjaan sebagai staf IT di Jakarta dan mereka memintaku membuat rancangan program. Aku sibuk mempersiapkannya hingga aku tidak sempat menghubungimu. Semua pesan-pesanmu lewat SMS aku terima. Maafkan aku, An… aku hanya ingin menyelesaikan rancangan program itu tepat waktu dan sesuai dengan kriteria mereka.”, jelas Yos perlahan.
Kulihat wajahnya. Dia tampak lebih kurus dan lelah.
“Yos, menurutmu, apakah kau merasakan sesuatu yang khusus dari pertemanan kita? Menurutmu, hendak kita bawa ke mana pertemanan ini?”, tanyaku sambil aku menantapnya dalam.
“Pesawat… dengan tujuan Brisbane akan segera diberangkatkan. Para penumpang yang masih berada di ruang tunggu harap segera menuju pesawat…”
Aku terhenyak. “Aku harus pergi, Yos. Itu pesawatku…”, kataku tergesa-gesa.
“An, …….. aku …. aku …..menyayangimu. Aku …. menunggumu di alamat chatting kita. Aku berjanji akan selalu di sana menunggumu. Jaga dirimu baik-baik. Hati-hati…”, terbata-bata Yos mengucapkan kalimat itu.
Aku mengangguk perlahan. Lalu kulambaikan tanganku padanya. Aku berlari menuju pesawat yang akan membawaku ke Brisbane. Aku tidak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuanku. Aku tidak sabar untuk menjumpai Yos di sana. Dan aku tidak sabar ingin mengabarkan kepada Rosi dan Tina bahwa Yos telah mengatakannya.
Subscribe to:
Comments (Atom)