A Death Experience
“Betty has cancer!”, cried Jessie over the phone. “She was admitted last night to the emergency ward and they did a quick operation on her and discovered she has stomach cancer.”
There was a pause, Jessie was choking with tears. Her voice was quivering and she had to restore her composure before continuing.
“She doesn’t know. We don’t know how to tell her. She had severe stomach cramps and still thinks it is something to do with her gastric problem, except that she thinks this time it is more severe.”
I tried to calm Jessie, struggling for words momentarily. A little unlike me. Jessie used to say she had been impressed with the way I seemed to be able to think on my feet and admired how quick I tended to be with words. (In the Shadow of Death page 1)
PENGALAMAN KEMATIAN
“Betty kena kanker!”, teriak Jessie melalui telepon. ”Tadi malam ia dibawa ke unit gawat darurat dan mereka cepat-cepat melakukan operasi lalu menemukan kanker di perutnya”.
Sunyi. Jessie tercekat dengan tangisnya. Suaranya gemetar dan mencoba mengembalikan ketenangannya sebelum melanjutkan.
“Betty belum tahu. Kami tidak tahu bagaimana memberitahukan hal ini kepadanya. Ia mengalami kram perut yang hebat dan ia masih mengira bahwa lambungnya yang bermasalah, hanya saja kali ini lebih parah dari sebelumnya”.
Saya mencoba menenangkan Jessie, yang berusaha untuk berbicara lagi. Saya sedikit berbeda kali ini. Jessie biasa mengatakan kalau ia terpesona dengan cara saya yang tampak seperti dapat berpikir selagi saya berdiri dan mengagumi bagaimana cepatnya saya berkata-kata.
This blog contains stories and personal reflections on anything that happened in my life. I hope that the stories enrich us to live our life fully.
Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Showing posts with label terjemahan. Show all posts
8/23/09
CONTOH TERJEMAHAN INGGRIS-->INDONESIA
NO STEPS TOO HIGH
“Joseph Ooi”
It seemed like any ordinary roll call. After all, university convocations can become routine, with so many graduating each time that most cannot wait for the ceremony to be over so that they can get on with picture taking and family celebrations. It was surely something all would have looked forward to, graduates and family alike, to lay their hands on the scroll that would confer on them the degree they had laboured for.
Not for joanne. As she sat the theatre waiting for her son’s name to be announced, her mind drifted. Tears began to moisten her eyes. Her heart skipped a beat.
All of a sudden, she felt like a solitary being in a sea of humanity. As she sat with concentrated gaze at her son painstakingly making his way to the stage to receive his scroll, her focus was only on Joseph. Her vision of all around started to fade. Only Joseph was in view.
Then, like a firm hand pressing on her chest, she felt a tinge of sadness weighing heavy on her heart. Before she knew it, her mind had drifted on an unanticipated excursion to years past.
It was 1997. There was nothing particulary auspicious about that year expect that Joanne had recently returned with her husband after a two-year stint in England. They had gone there after getting married in 1975. And, like most young married couples, she and her husband had decided to have a baby now that they were a little more settled in Singapore. (When Mourning Breaks by Anthony Yeo)
TAK ADA ANAK TANGGA YANG TERLALU TINGGI
”Joseph Ooi”
Panggilan itu seperti kegiatan memerika kehadiran siswa yang biasanya dilakukan di kelas. Perhelatan universitas telah menjadi sesuatu yang rutin, dan dengan banyaknya mahasiswa yang diwisuda, mereka hampir tidak sabar menunggu acara selesai sehingga mereka dapat segera berfoto-foto dan mengadakan acara perayaana dengan keluarga. Wisuda adalah sesuatu yang dinanti-nantikan semua orang, baik itu mereka yang diwisuda maupun keluarga mereka, menerima gulungan ijasah yang menyatakan kelulusan mereka, serta gelar yang sudah mereka perjuangkan sebelumnya.
Tidak demikian dengan Joanne. Saat ia duduk di bangku hadirin menantikan nama putranya dipanggil, pikirannya melayang jauh. Air mata berlinang di pelupuk matanya. Jantungnya berdebar tidak karuan.
Tiba-tiba, ia merasa seperti terkurung di tengah-tengah lautan manusia. Ketika ia duduk memandangi putranya yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju panggung untuk menerima ijasahnya, pandangannya hanya tertuju pada Joseph. Pandangannya terhadap segala sesuatu di sekitarnya mulai memudar. Hanya Joseph-lah yang ada di pandangannya.
Lalu, seolah seperti sebuah tangan yang kuat menekan dadanya, ia merasakan kesedihan membebani hatinya. Sebelum ia menyadarinya, pikirannya telah melayang pada tahun-tahun yang telah berlalu.
Saat itu tahun 1977. Tahun itu tidak ada sesuatu yang berubah secara khusus kecuali bahwa Joanne dan suaminya baru saja kembali ke Singapura setelah dua tahun menjalankan tugas di Inggris. Mereka pergi ke sana setelah mereka menikah di tahun 1975. Dan, seperti kebanyakan pasangan muda, ia dan suaminya memutuskan untuk segera punya anak karena sekarang setidaknya mereka sudah menetap di Singapura.
“Joseph Ooi”
It seemed like any ordinary roll call. After all, university convocations can become routine, with so many graduating each time that most cannot wait for the ceremony to be over so that they can get on with picture taking and family celebrations. It was surely something all would have looked forward to, graduates and family alike, to lay their hands on the scroll that would confer on them the degree they had laboured for.
Not for joanne. As she sat the theatre waiting for her son’s name to be announced, her mind drifted. Tears began to moisten her eyes. Her heart skipped a beat.
All of a sudden, she felt like a solitary being in a sea of humanity. As she sat with concentrated gaze at her son painstakingly making his way to the stage to receive his scroll, her focus was only on Joseph. Her vision of all around started to fade. Only Joseph was in view.
Then, like a firm hand pressing on her chest, she felt a tinge of sadness weighing heavy on her heart. Before she knew it, her mind had drifted on an unanticipated excursion to years past.
It was 1997. There was nothing particulary auspicious about that year expect that Joanne had recently returned with her husband after a two-year stint in England. They had gone there after getting married in 1975. And, like most young married couples, she and her husband had decided to have a baby now that they were a little more settled in Singapore. (When Mourning Breaks by Anthony Yeo)
TAK ADA ANAK TANGGA YANG TERLALU TINGGI
”Joseph Ooi”
Panggilan itu seperti kegiatan memerika kehadiran siswa yang biasanya dilakukan di kelas. Perhelatan universitas telah menjadi sesuatu yang rutin, dan dengan banyaknya mahasiswa yang diwisuda, mereka hampir tidak sabar menunggu acara selesai sehingga mereka dapat segera berfoto-foto dan mengadakan acara perayaana dengan keluarga. Wisuda adalah sesuatu yang dinanti-nantikan semua orang, baik itu mereka yang diwisuda maupun keluarga mereka, menerima gulungan ijasah yang menyatakan kelulusan mereka, serta gelar yang sudah mereka perjuangkan sebelumnya.
Tidak demikian dengan Joanne. Saat ia duduk di bangku hadirin menantikan nama putranya dipanggil, pikirannya melayang jauh. Air mata berlinang di pelupuk matanya. Jantungnya berdebar tidak karuan.
Tiba-tiba, ia merasa seperti terkurung di tengah-tengah lautan manusia. Ketika ia duduk memandangi putranya yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju panggung untuk menerima ijasahnya, pandangannya hanya tertuju pada Joseph. Pandangannya terhadap segala sesuatu di sekitarnya mulai memudar. Hanya Joseph-lah yang ada di pandangannya.
Lalu, seolah seperti sebuah tangan yang kuat menekan dadanya, ia merasakan kesedihan membebani hatinya. Sebelum ia menyadarinya, pikirannya telah melayang pada tahun-tahun yang telah berlalu.
Saat itu tahun 1977. Tahun itu tidak ada sesuatu yang berubah secara khusus kecuali bahwa Joanne dan suaminya baru saja kembali ke Singapura setelah dua tahun menjalankan tugas di Inggris. Mereka pergi ke sana setelah mereka menikah di tahun 1975. Dan, seperti kebanyakan pasangan muda, ia dan suaminya memutuskan untuk segera punya anak karena sekarang setidaknya mereka sudah menetap di Singapura.
CONTOH TERJEMAHAN INGGRIS-->INDONESIA
I NEED Thee Every Hour
God’s Prevenient Grace
Often The Lord through some experience prepares us for a test or trial yet to come. Such was true of Annie S.Hawks (1835-1919), when as a young busy housewife and mother she was led to pen the words of the hymn, ”I Need Thee Every Hour.” She records her experience in writing the words:
One day as a young wife and mother of 37 years of age, Iwas buy with my reguler household tasks. Suddenly, I became filled with the sense of nearness to the Master,and I began to wonder how anyone could ever live without Him, either in joy or pain. Then the words were ushered into my mind and these thoughts took full possession of me.
AKU MEMERLUKAN TUHAN SETIAP JAM
Anugerah Allah Yang Selalu Tersedia
Seringkali Tuhan memberikan pengalaman kepada kita melalui ujian dan cobaan yang kita alami. Hal ini benar-benar dialami oleh Annie S. Hawks (1835-1919), ketika saat itu ia masih menjadi seorang ibu rumah tangga dan ibu yang masih muda, ia menuliskan kata-kata lagu himne ini, “Aku Memerlukan Tuhan Setiap Jam”. Ia mencatat pengalamannya dengan menuliskan demikian:
Suatu hari seperti layaknya seorang istri dan ibu yang masih muda, ketika itu saya berusia 37 tahun, saya disibukkan dengan tugas-tugas rutin rumah tangga. Tiba-tiba, saya merasa dipenuhi dengan rasa kedekatan saya dengan Tuhan, dan saya mulai bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat hidup tanpa Dia, baik itu ketika senang maupun susah. Kemudian kata-kata bermunculan di benak saya dan pemikiran ini memenuhi saya.
God’s Prevenient Grace
Often The Lord through some experience prepares us for a test or trial yet to come. Such was true of Annie S.Hawks (1835-1919), when as a young busy housewife and mother she was led to pen the words of the hymn, ”I Need Thee Every Hour.” She records her experience in writing the words:
One day as a young wife and mother of 37 years of age, Iwas buy with my reguler household tasks. Suddenly, I became filled with the sense of nearness to the Master,and I began to wonder how anyone could ever live without Him, either in joy or pain. Then the words were ushered into my mind and these thoughts took full possession of me.
AKU MEMERLUKAN TUHAN SETIAP JAM
Anugerah Allah Yang Selalu Tersedia
Seringkali Tuhan memberikan pengalaman kepada kita melalui ujian dan cobaan yang kita alami. Hal ini benar-benar dialami oleh Annie S. Hawks (1835-1919), ketika saat itu ia masih menjadi seorang ibu rumah tangga dan ibu yang masih muda, ia menuliskan kata-kata lagu himne ini, “Aku Memerlukan Tuhan Setiap Jam”. Ia mencatat pengalamannya dengan menuliskan demikian:
Suatu hari seperti layaknya seorang istri dan ibu yang masih muda, ketika itu saya berusia 37 tahun, saya disibukkan dengan tugas-tugas rutin rumah tangga. Tiba-tiba, saya merasa dipenuhi dengan rasa kedekatan saya dengan Tuhan, dan saya mulai bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat hidup tanpa Dia, baik itu ketika senang maupun susah. Kemudian kata-kata bermunculan di benak saya dan pemikiran ini memenuhi saya.
CONTOH TERJEMAHAN INGGRIS-->INDONESIA
Amazing Grace
From Slave Ship Owner to Salvation
One of the most popular and beloved of all hymes, ”Amzing Grace”, was penned by John Newton of England in the 1700s. The hymn relates the pilgrimage of its author, who was radically transformed by the grace of God.
From Slave Ship Owner to Salvation
One of the most popular and beloved of all hymes, ”Amzing Grace”, was penned by John Newton of England in the 1700s. The hymn relates the pilgrimage of its author, who was radically transformed by the grace of God.
John Newton’s devout mother dedicated him early to the ministry and began his religious training at an early age. He could recite the catechism and hymn by the age of hour. His mother died when he was seven, and at the age of eleven, after several years of school away from home, he went to sea with his sea captain father. Later he served in the Bristish Navy, deserted, and when caught was put in irons and whipped in public.
ANUGERAH YANG MENAKJUBKAN
Pemilik Kapal Perdagangan Budak yang Diselamatkan
Lagu “Amat Besar Anugerah (Amazing Grace)” adalah salah satu lagu himne yang terkenal dan sangat disukai orang. Lagu ini ditulis oleh John Newton dari Inggris sekitar tahun 1700. Isi lagu ini berkaitan erat dengan perziarahan hidup pengarangnya, yang diubah oleh anugerah Allah secara total.
Ibunya yang amat saleh sudah menyerahkan John Newton sejak ia masih kecil ke suatu jemaat untuk melayani di sana dan kepadanya sudah diajarkan tentang hal-hal yang sifatnya relijius pada usia yang masih sangat muda. Pada usia empat tahun ia sudah mampu menghafalkan katekisme dan melantunkan lagu-lagu himne. Namun ibunya meninggal saat ia berusia tujuh tahun, dan di usia sebelas tahun, setelah ia beberapa tahun sekolah di tempat yang jauh dari rumahnya, ia mulai berlayar bersama ayahnya yang seorang kapten kapal. Kemudian ia bekerja di Angkatan Laut Inggris, namun ia membelot, dan ketika ia tertangkap ia mengalami penyiksaan dengan disetrika dan dicambuk di depan umum.
Pemilik Kapal Perdagangan Budak yang Diselamatkan
Lagu “Amat Besar Anugerah (Amazing Grace)” adalah salah satu lagu himne yang terkenal dan sangat disukai orang. Lagu ini ditulis oleh John Newton dari Inggris sekitar tahun 1700. Isi lagu ini berkaitan erat dengan perziarahan hidup pengarangnya, yang diubah oleh anugerah Allah secara total.
Ibunya yang amat saleh sudah menyerahkan John Newton sejak ia masih kecil ke suatu jemaat untuk melayani di sana dan kepadanya sudah diajarkan tentang hal-hal yang sifatnya relijius pada usia yang masih sangat muda. Pada usia empat tahun ia sudah mampu menghafalkan katekisme dan melantunkan lagu-lagu himne. Namun ibunya meninggal saat ia berusia tujuh tahun, dan di usia sebelas tahun, setelah ia beberapa tahun sekolah di tempat yang jauh dari rumahnya, ia mulai berlayar bersama ayahnya yang seorang kapten kapal. Kemudian ia bekerja di Angkatan Laut Inggris, namun ia membelot, dan ketika ia tertangkap ia mengalami penyiksaan dengan disetrika dan dicambuk di depan umum.
Subscribe to:
Comments (Atom)