Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

10/30/09

QUO VADIS DOMINE?


Tanggal 27 Oktober 2009 yang lalu, saya menghadiri Kebaktian Penahbisan Pendeta GKI, yaitu Pnt. Benaya Agus Dwihartanta, S.Th. Tema penahbisan adalah “Quo Vadis Domine”. Tema ini juga menjadi desain halaman sampul buku acara penahbisan, seperti yang dapat dilihat dalam gambar di tulisan ini. Gambar tersebut adalah lukisan “Domine, Quo Vadis?” karya Annibale Carraci, tahun 1602.

Di dalam kata-kata pembuka liturgi, dinarasikan demikian:
“Quo Vadis Domine…Kata ini mengandung makna yang dalam, berkaitan dengan tradisi sejarah gereja. Konon ketika Roma dibakar oleh Kaisar Nero (Lucius Domitius Ahenobarbus), orang Kristen teraniaya. Aniaya yang dilakukan terhadap orang Kristen sangat kejam. Ia suka membuang orang Kristen ke kandang binatang buas, dan menjadikannya tontonan yang mengasyikkan.

Petrus berlari meninggalkan kota Roma untuk menyelamatkan diri, tetapi di jalan ia bertemu dengan Tuhan Yesus yang berjalan berlawanan arah denganya. Ia bertanya, “Hendak ke mana Tuhan?”, Tuhan Yesus menjawab bahwa Ia akan masuk ke kota Roma untuk mendampingi umat-Nya. Petrus merasa tertegur. Ia malu. Ia menyadari sikapnya yang pengecut, tidak bertanggung jawab dan mencari kenyamanan. Karena itu, ia kembali ke kota Roma. Menurut cerita dalam sejarah gereja, akhirnya ia mati disalib dengan kepala di bawah. Petrus sebelum mati berkata bahwa kalau Tuhannya mati dengan kepala di atas, ia tidak layak mati dengan kepala di atas. Karena itu, ia disalib dengan kepala di bawah.
Melalui tema ibadah ini, kita diajak untuk berefleksi bersama, baik sebagai individu maupun jemaat, apa yang menjadi kehendak Tuhan bagi kita dalam mengikut dia. Kita diajak untuk menghayati pertanyaan Petrus terhadap Tuhan Yesus, “Quo Vadis Domine: Hendak Kemana Tuhan?”. Dengan demikian, kita tidak melangkah berlawanan dengan kehendak Tuhan.

Tema ini kemudian diperjelas dalam penyampaian firman Tuhan. Jemaat diajak untuk melihat gambar lukisan “Domine Quo Vadis” dengan lebih jeli. Di dalam lukisan tersebut, tergambar dengan mencolok perbedaan antara Tuhan Yesus dengan Petrus. Tuhan Yesus berjalan memanggul salib, dengan kondisi pakaian yang tidak lengkap, bahkan cenderung compang-camping. Sementara Petrus, dalam kondisi berpakaian lengkap, bahkan cenderung mentereng dan mewah. Tuhan Yesus berjalan menuju ke kota Roma, yang jelas-jelas sedang dalam situasi yang tidak menyenangkan. Orang Kristen dianiaya dengan kejam. Penderitaan ada di mana-mana, tetapi Tuhan Yesus tetap hendak melangkah memasuki kota Roma. Sementara Petrus, justru hendak melarikan diri dari kota Roma. Refleksi yang dapat diambil adalah Tuhan Yesus dengan pakaiannya yang sederhana bahkan cenderung compang-camping dan berjalan menuju ke kota Roma menggambarkan “jalan Salib”. Jalan Salib tidak pernah menyenangkan, tetapi Tuhan Yesus tetap menjalaninya. Sementara Petrus digambarkan dengan kondisi pakaiannya, dia berada dalam kenyamanan dan kemapanan. Ketika penderitaan datang, ia hendak lari dari kenyataan, lari dari “jalan Salib” yang seharusnya ia jalani.

Dalam kehidupan kita saat ini, gambaran tersebut juga masih relevan. Bukankah Petrus menggambarkan kehidupan kita? Kita seringkali terjebak di dalam kenyamanan dan kemapanan sehingga ketika kita harus menjalani “jalan Salib” kita berusaha lari menjauhinya. Akan tetapi, perjumpaan Petrus dengan Tuhan Yesus mengingatkan kita juga bahwa Tuhan Yesus selalu ingin kita tetap menjalani “Salib” itu. “Quo Vadis Domine” mengingatkan kita bahwa kita harus selalu bertanya apakah kita sudah searah dengan Tuhan kita dalam perjalanan hidup di dunia ini. Menjadi pengikut Tuhan, tidak selalu berarti mengerti semua kehendak Tuhan. Semakin lama mengikuti Tuhan, maka akan semakin tidak mengerti. Akan tetapi, bukankah dengan semakin tidak mengerti, kita harus semakin mendekat kepada-Nya?

Saya bersyukur kalau saya dapat menghadiri kebaktian ini. Sejak awal kebaktian, saya sudah merasa tertegur dengan narasi yang disampaikan di awal kebaktian. Ditambah penegasan di dalam penguraian firman, tema ini makin menegur saya dan membuat saya sadar betapa selama ini saya juga melakukan hal yang sama. Berapa kali saya berusaha berjalan berlawanan arah dengan Tuhan saya. Kenyamanan dan kemapanan kerapkali menjadi salah satu godaan untuk melangkah berlawanan arah dengan Tuhan.

Kebaktian ini sudah membuat saya berjanji untuk kembali bertanya kepada Tuhan, apakah arah hidup saya tidak berlawanan arah dengan-Nya. Memang benar, semakin dekat dengan Tuhan, akan semakin banyak hal yang tidak kita mengerti, tetapi itu berarti bahwa kita harus justru semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Saya berharap bahwa “Quo Vadis Domine” ini akan terus terngiang di dalam hati saya agar saya tidak pernah lupa mengoreksi dan merefleksi diri apakah arah hidup saya tidak berlawanan dengan kehendak-Nya. Jalan Salib tidak pernah menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang berani menjalaninya tanpa anugerah Tuhan. Saya hanya bisa mengharapkan kekuatan dan anugerah-Nya agar jalan salib yang harus saya jalani tidak pernah saya ingkari: “Quo vadis, Domine?”.
Catatan:
Gambar ini diambil dari wikipedia. Wikipedia memberi keterangan sebagai berikut:
Domine, quo vadis? is a painting by the Italian Baroque painter Annibale Carracci. Dating from c. 1602, it is housed in the National Gallery, London.
The work shows Saint Peter in the moment in which, while fleeing Rome on the Via Appia, he meets Christ, who is walking toward the city. Peter asks him, Domine, quo vadis? ("Lord, where are you going?"). His Lord replies, Eo Romam iterum crucifigi, (I am going to Rome to be crucified again."), by which Peter understands that he (Peter) must return to the city to face the martyrdom God intended for him.

9/1/09

IT IS NOT MY DREAM, THOUGH

Sudah menjadi impian sejak lama bahwa suatu hari aku ingin keluar dari kota Solo dan mencari pekerjaan di luar kota. I want to be out of my home town, find a new job and make my own life. Alasannya sederhana: aku ingin hidup mandiri dan bebas dari campur tangan dan intervensi orang tuaku, khususnya papiku. Dan, sejak tahun kemarin tampaknya impianku itu akan menjadi kenyataan. Aku mendapat tawaran pekerjaan yang cukup menarik di Jogja, dan ditambah kondisi skoliosisku yang semakin membatasi aktivitas, membuat aku tidak mungkin meneruskan pekerjaan yang saat itu aku tekuni.

Namun demikian, apa yang kuimpikan tidak pernah menjadi kenyataan. Beberapa teman yang mengikuti bagaimana perjalananku dari awal tahun hingga saat ini akan mengerti bagaimana rencana yang sudah aku buat sekian bulan lamanya diputarbalikkan dan aku harus berubah arah 360 derajat. Karena berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk tidak bekerja di Jogja dan tetap tinggal di Solo. Mulanya, sesiap apa pun aku memutuskan hal ini, bagiku tidaklah mudah. Merelakan impian yang sudah ada di depan mata dan hanya tinggal satu langkah saja ke depan, dan semuanya menjadi kenyataan. Namun demikian, setelah beberapa bulan menjalaninya, aku mencoba merenungkan ulang pengalaman perjalananku bersama dengan-Nya. Dan, ada beberapa hal yang bisa kusimpulkan:

1. Jadilah Tuhan, kehendak-Mu.
Seringkali di dalam kebaktian hari Minggu, kita menyanyikan lagu “Jadilah Tuhan kehendak-Mu, Kaulah Penjunan, ‘ku tanahnya, …” Penggalan lagu ini mengingatkan aku bahwa bagaimanapun Tuhanlah yang punya kehendak. Kehendak-Nya tidak sama dengan kehendak kita dan rencana-Nya bukan rencana kita. Melalui pengalamanku baru-baru ini, aku diingatkan bahwa ketika kita berani mengatakakan pernyataan tersebut, berarti kita juga sudah rela untuk merendahkan diri lalu merelakan kehendak Dia terjadi dalam hidup kita. Satu hal yang paling sulit dalam kehidupan ini adalah merelakan kehendak kita diambil alih oleh orang lain, keinginan kita dikuasai oleh orang lain. Jadi, relakah kita dikuasai oleh Pencipta kita? Aku mengalami bagaimana sulitnya aku harus berupaya sampai aku bisa dengan rela hati mengatakan, “Baiklah Tuhan, aku menyerah kepada kehendak-Mu.” Aku ingin mewujudkan impianku dengan berbagai alasan yang sudah kuutarakan kepada-Nya, tetapi pada akhirnya aku harus mengakui bahwa Dia memiliki rencana dan kehendak yang berbeda. Mimpi-Nya bukan mimpiku. Dan aku tahu, bahwa Dia ingin aku mencapai tujuan itu, mimpi-Nya itu, bukan mimpiku.

2. Mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya.
Kelihatannya mudah mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya. Tetapi jujur, bukan hal mudah bagiku. Ketika aku sudah mengatakan, baiklah Tuhan, aku ikut kehendak-Mu. Lalu, tidak ada sikap hati yang mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya? Jadi, apa gunanya pernyataanku untuk mengikut kehendak-Nya?? Aku merasakan kesabaran Tuhan yang luar biasa dan mendampingiku setahap demi setahap sampai aku benar-benar bisa membentuk hatiku untuk bersikap mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya. Kupikir proses ini tidak akan pernah selesai sepanjang umur hidupku karena ada banyak aspek dalam hidup yang harus Dia poles. Aku lega memiliki Tuhan yang sangat sabar mengajariku.

3. Berkomunikasi dengan-Nya.
Bagaimana kita bisa membentuk sikap hati yang mempercayakan diri kepada-Nya kalau kita tidak mengkomunikasikan dengan Dia apa saja yang hendak kita percayakan kepada-Nya? Aku belajar bahwa mulai dari hal yang sekecil apa pun aku harus mengkomunikasikan dengan-Nya, berbicara dengan-Nya, minta pendapat-Nya, minta konfirmasi-Nya, minta persetujuan-Nya. Bagiku, bukan hal mudah juga berbicara dari hati ke hati dengan-Nya. Namun, melalui pengalamanku, aku “dipaksa” untuk selalu berbicara dengan-Nya. Bagaimana mungkin aku memutuskan segala hal yang penting dalam hidupku kalau aku tidak bertanya pada-Nya mulai dari hal yang sepele? Seringkali dalam hidup, persimpangan jalan itu tidak hanya bercabang dua, bisa jadi tiga, empat, atau lima. Bagaimana memutuskan arah hidup dengan benar kalau kita tidak selalu mengkomunikasikan segala hal dengan-Nya??

Dan, aku bersyukur walaupun mimpiku porak poranda, rencanaku kacau balau, tetapi aku melihat bahwa ada satu arah yang Tuhan ingin aku capai. Ketiga hal tersebut di ataslah yang kupahami menjadi mimpi-Nya Tuhan untukku. Dan aku juga bersyukur bahwa Tuhan menyediakan banyak sarana untuk mengenali-Nya, di antaranya adalah perjumpaanku dengan teman-teman yang senantiasa mendukungku dan mendoakanku. Bersama merekalah, aku dapat memahami “mimpi” apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku.

8/24/09

MAKE A WISH, ANNA!!

Setiap ulang tahun memberi makna tersendiri dan aku selalu mencoba merefleksikan makna apa dari setiap ulang tahunku. Tahun ini, aku merasa tampaknya ulang tahunku akan berlalu biasa-biasa saja, tetapi dugaanku selalu salah. Tahun ini, secara istimewa Tuhan mengingatkanku akan beberapa hal melalui ucapan dari teman-teman lewat SMS atau FB. Ketika aku merefleksikannya, ada beberapa hal penting yang kucatat, yaitu:


1. Percayakan segala sesuatunya kepada Tuhan, percayalah dengan segenap hatimu maka Dia akan memimpin jalanmu.
Mungkin kalimat ini sudah sering kita dengar dalam perbincangan kita sehari-hari sebagai orang Kristen. Namun ketika pesan tersebut disampaikan di “hari” kita, aku rasa sepantasnya kalau kita memikirkan ulang seberapa jauh sih, rasa percaya kita kepada Tuhan selama ini? Seberapa jauh sih tindakan kita mempercayakan diri kepada Tuhan selama ini? Bagiku secara pribadi, it is not that simple. Dan, melalui momen ulang tahunku, aku tahu Tuhan ingin mengingatkanku tentang hal ini. Tuhan ingin aku memperbaharui kembali semangat dan spiritku dalam aku mempercayakan hidupku ini sepenuhnya kepada-Nya. Jadi, tidak semudah itu bukan??

2. Hiduplah untuk hari ini, jangan kuatirkan hari esok.
Kita cenderung membuat rencana untuk hidup kita. Kita ingin melakukan ini dan itu di masa depan. Kita sering memikirkan bagaimana menggapai mimpi-mimpi kita. Demikian juga aku. Banyak sekali mimpi-mimpi yang ingin kucapai dalam hidupku. Aku suka sekali merencanakan banyak hal untuk hari depanku. Akan tetapi, rencana-rencana itu kadang menguasai pikiranku sedemikian rupa sehingga aku lupa menikmati “hari ini”, hari ini yang diberikan Tuhan padaku. Untunglah, ada pesan masuk mengenai hal ini, dan aku diingatkan agar aku menikmati hidup hari ini, dan jangan sampai kurusak anugerah Tuhan hari ini dengan kekuatiran akan masa depan.


3. Make a wish.
Seorang teman menanyakan kepadaku, “What is/are your wish (es) Anna for your B’day?”. Aku menjawab, “I wish my scoliosis is going to be normal”. Selama ini aku sudah belajar untuk hidup dengan skoliosisku, jadi kupikir kali ini giliranku untuk “make a wish”. Dan aku masih berharap, suatu hari nanti, skoliosisku akan berubah menjadi kurva yang normal. Yeah, that’s my wish!


4. Teman-teman adalah harta yang tidak ternilai.
Setiap kali ulang tahun, aku selalu diingatka bahwa teman-temanku adalah harta yang tidak ternilai. Mereka bertebaran di sekelilingku dan selalu siap menopangku dalam segala situasi dan kondisi yang sedang kualami. Aku tidak habis pikir apa jadinya hidupku tanpa kehadiran teman-temanku. Thank you thousand again for being my friends and walking by side.

Dan, karena permintaan seorang teman pula, aku menuliskan refleksi ini.

Agustus 2009.

3/19/09

PESAN SINGKAT YANG MENGUBAHKAN

Orang sering berkata bahwa menjadi anak bungsu itu menyenangkan dibandingkan menjadi anak sulung. Saya, anak bungsu dari empat bersaudara, namun baru benar-benar merasakan bagaimana menjadi anak bungsu akhir-akhir ini. Sebelumnya, saya mengenal kakak-kakak saya hanya secara formal bukan secara emosional. Kakak saya tiga orang; dua laki-laki, satu perempuan. Beda usia di antara kami memang cukup jauh. Saya dengan kakak saya perempuan yang nomor tiga adalah 17 tahun. Dapat dibayangkan, berapa kira-kira beda usia saya dengan kedua kakak laki-laki saya yang lain. Sewaktu saya masih kecil, kakak-kakak saya sudah bekerja di luar kota, bahkan yang sulung telah menikah. Dapat dimengerti pula jika kami jarang berkumpul dan bertemu. Saya merasa hubungan kami wajar-wajar saja dan tidak ada sesuatu yang salah dalam hubungan kami, sampai saya mengalami satu peristiwa. Satu peristiwa yang membuka hati saya bahwa ternyata selama 30 tahun lebih telah ada sesuatu yang hilang di antara kami, tanpa saya (atau pun kami) sadari.

Kira-kira bulan Oktober tahun 2004, kakak laki-laki saya yang nomor dua menderita sakit yang cukup parah: jantung koroner. Untuk mempertahankan hidupnya, dokter menyarankan dia menjalani terapi pemasangan stent dalam beberapa pembuluh darahnya yang tersumbat. Hari itu, seperti biasa, saya berangkat ke kantor. Di tengah perjalanan, saya mendengar ada pesan singkat (SMS) masuk ke hand phone saya. Karena saya membonceng sepeda motor, saya dapat membacanya sambil berada di atas sepeda motor. Pesan singkat itu dari kakak saya yang akan berangkat ke Jakarta untuk pemasangan stent. Dia menulis pesan meminta saya mendoakan dia supaya terapi yang akan dilakukan berjalan dengan lancar. “Doakan supaya semuanya lancar. HP-mu aktif terus, kan?” Demikian tulisnya di pesan singkat itu. Saat membacanya, saya merasakan seperti ada gunung es mencair dalam hati saya. Selama 30 tahun lebih tidak pernah sekali pun kakak saya meminta bantuan saya, dukungan saya, walau hanya sebatas doa. Seandainya waktu masih memungkinkan, saat itu, saya ingin berlari ke bandara, menjumpai dia, dan memeluknya.

Sesuatu yang saya kira selama 30 tahun lebih berjalan wajar-wajar saja dalam hubungan kami sebagai saudara, baru saya sadari sekarang ternyata ada sesuatu hal berharga yang hilang tanpa saya sadari di dalam hubungan kami sebagai kakak-adik. Malam itu, kakak saya menjalani terapi pemasangan stent dalam dukungan doa-doa kami. Walaupun tidak semua dari kami dapat bersama-sama dengannya, tapi kami merasakan bahwa kami bersama-sama dengannya melalui doa-doa kami.

Sekarang, sudah hampir dua tahun sejak kejadian itu dan Tuhan semakin memulihkan hubungan kami. Rutinitas kami berjalan seperti biasa, tapi saya tetap dapat merasakan bagaimana memiliki kakak-kakak dalam hubungan emosional yang indah. Tuhan memang tidak memulihkan jantung kakak saya sepenuhnya. Tiga buah stent yang terpasang dalam pembuluh darahnya memang tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Akan tetapi, Tuhan memulihkan hati kami; hubungan kami.

Melalui peristiwa itu, saya ingin mengatakan bahwa karya Tuhan tidak pernah terduga oleh pikiran manusia. Tuhan dapat memakai sesuatu yang tampaknya tidak berarti (pesan singkat) untuk rencana-Nya. Tuhan juga dapat membuat sesuatu yang tampaknya tidak menyenangkan (menderita sakit) untuk mendatangkan kebaikan untuk anak-anak-Nya. Dalam salah satu artikelnya, Rick Warren pernah menuliskan demikian: “Allah lebih peduli pada karakter kita, daripada kenyamanan kita. Rencana-Nya adalah menjadikan kita sempurna, bukan memanjakan kita”. (Juli 2006).

2/4/09

SYUKUR TUHAN

Tidak pernah terpikirkan dalam benak saya bahwa saya akan menderita skolosis. Pun, tidak pernah terpikirkan juga kalau kurva skoliosis yang saya derita akan bertambah parah. Skolisis, menurut pemahaman saya adalah pembentukan kurva tulang punggung yang tidak normal. Untuk memudahkan, dapat dilihat gambar di bawah ini:

Gambar sebelah kiri adalah gambar tulang punggung yang normal, sedangkan gambar di sebelah kanan adalah gambar tulang punggung skoliosis.

Dengan kondisi tulang punggung demikian, akibatnya dapat berpengaruh pada seluruh tubuh. Duduk menjadi tidak nyaman, berdiri terlalu lama tidak nyaman. Organ-organ yang lain seperti paru-paru dan lambung juga terganggu ruang geraknya. Dengan adanya bentuk tulang punggung yang tidak normal ini, maka gerak tarik-menarik otot di kedua sisi menjadi tidak seimbang. Hal ini menyebabkan rasa nyeri yang berkepanjangan dan kadang bisa membuat tubuh demam, peredaran darah tidak lancar sehingga menimbulkan spasme pada otot.
Kondisi seperti inilah yang saya alami sejak saya berusia kira-kira 15 tahun hingga sekarang 37 tahun. Dulu, kondisi ini tidak pernah saya pedulikan karena keluhan tidak terlalu banyak, dan dokter pada waktu itu memberitahu bahwa pada usia 25 tahun pertumbuhan kurva akan berhenti. Saya pikir, tidak usahlah ditangani serius, toh nantinya akan berhenti dengan sendirimya. Namun ternyata, keadaannya tidak demikian. Kurva skoliosis saya berkembang semakin parah dan puncaknya pada tahun 2007, kondisi fisik dan kesehatan saya semakin lama semakin menurun. Saya sering demam dengan nyeri punggung yang amat sangat tidak tertahankan. Hal ini membuat saya tidak bisa beristirahat dengan baik sehingga saya sering terkena flu. Keadaan ini terus berlanjut tanpa saya tahu bagaimana saya mengatasinya. Ditambah lagi dengan perkiraan dokter pada saat cek terakhir adalah, kurva skoliosis saya sudah mencapi 92 derajat. Dokter mengatakan bahwa ketika kurva mencapai 100 derajat maka dapat dipastikan saya tidak mungkin dapat beraktivitas secara normal lagi, bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan. Lebih buruk lagi, dokter menambahkan bahwa setiap tahun kurva tersebut akan bertambah kira-kira 2 derajat.
Pertama kali saya mendengar tentang diagnosis dokter ini, dunia terasa runtuh di atas kepala saya. Berbagai pikiran muncul dalam benak saya. Otak saya rasanya berhenti total tidak dapat digunakan untuk berpikir. Menangis, rasanya juga sudah tidak ada air mata. Ketika saya merasa bahwa tidak ada jalan keluar, satu hal yang saya pikirkan, masak Tuhan itu akan membiarkan saya menjadi lumpuh dan bergantung pada orang lain. Berawal dari pemikiran itu, ditambah dukungan dari banyak orang di sekitar saya: teman-teman dekat, rekan-rekan sekerja, dan kakak-kakak saya, saya mulai memikirkan apa saja yang bisa saya lakukan selama saya memiliki kesempatan. Saya pikir seandainya saya memang benar-benar harus lumpuh, setidaknya mulai sekarang, saya harus mempersiapkan diri saya supaya, ketika hal itu terjadi, saya tidak menyesal telah menyia-nyiakan waktu saya.
Saya mulai memikirkan ulang, di mana bakat dan minat saya, keterampilan saya, dan keahlian yang masih perlu diasah. Di samping itu, saya mulai harus memerhatikan kondisi fisik saya. Saya menambah frekuensi olah raga dan terapi. Di sela-sela usaha saya tersebut, kakak saya memberi informasi bahwa olah raga yoga dapat memberi manfaat banyak hal termasuk penderita skoliosis. Dia mendesak saya untuk berlatih yoga. Saya sebenarnya menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Saya masih belum yakin dengan yoga. Saya juga masih sangat awam dengan olah raga ini. Karena desakan kakak saya, saya akhirnya belajar yoga. Terus terang, saya belajar yoga tidak dengan sepenuh hati. Pikir saya, daripada tidak, dicoba tidak ada jeleknya. Namun demikian, saya juga berusaha mencari info-info di internet tentang yoga khusus untuk penderita skoliosis. Tanpa disengaja, saya mendapatkan gerakan-gerakan yoga yang dapat dipergunakan untuk penderita skoliosis. Saya mengkonsultasikan gerakan-gerakan tersebut dengan terapis saya, dan saya diberikan arahan oleh terapi saya bagaimana saya me-yogakan gerakan-gerakan tersebut.
Satu bulan, dua bulan sampai kira-kira enam bulan saya melakukannya, tetapi tidak ada perubahan yang berarti. Di samping itu, rasa nyeri punggung semakin bertambah-tambah saya rasakan, karena saya harus menempati ruang kantor baru di lantai 2. Setiap kali pulang kerja, rasa nyeri semakin terasa. Sampai suatu ketika, di dalam benak saya terlintas kata-kata dari terapis saya bahwa melakukan yoga itu harus dirasakan. “Merasakan yoga” itu kalimat kunci yang saya ulang-ulang di dalam hati saya. Ketika saya mencoba sekali lagi yoga dengan “merasakan”, maka saya mulai merasakan “bedanya”. Genap seminggu saya melakukannya, saya merasakan badan saya lebih sehat. Nyeri punggung berkurang, dan ketika naik-turun tangga pun, badan terasa ringan. Ketika saya terapi, terapis saya terheran-heran karena badan saya yang sering mengalami spasme otot, sudah pulih dan massa otot saya berkembang. Saya hampir tidak percaya dengan hal ini, tetapi kenyataannya memang tidak ada lagi yang perlu diterapi.
Melalui pemaparan tersebut, saya tidak bermaksud menggarisbawahi tentang yoga yang saya lakukan tetapi saya ingin mengajak kita semua melihat tangan Tuhan yang berkarya melalui pengalaman saya tersebut. Semua hal yang tampaknya kebetulan buat saya, tetapi di tangan Tuhan, itu semua bukan kebetulan. Bukan kebetulan kalau saya menderita skoliosis. Bukan kebetulan kalau kakak saya mendesak saya melakukan yoga. Bukan kebetulan kalau saya menemukan gerakan-gerakan yoga untuk skoliosis di internet, dan bukan kebetulan pula kalau akhirnya saya menemukan teknik melakukan yoga dengan benar. Ketika merenungkan hal ini, saya teringat dengan lagu yang biasanya saya dengar dinyanyikan di Kebaktian Umum GKKK Surakarta. Judulnya adalah “Syukur Tuhan”. Liriknya berbunyi demikian:

Syukur Tuhan,
untuk berkat yang Kau beri,
kurasakan tiap hari
kar’na kasih-Mu
dan syukur Tuhan
cobaan yang kualami,
mengajarku menghayati
arti kasih-Mu...
Tiap liku hidupku membuat
kuberserah kepada-Mu,
luaskan roh-Mu bekerja di hatiku.
Hingga saat ini ya Tuhan
kelak Kau hantar daku
dan kurasakan damainya
bersama-Mu.


Tiap lirik lagu ini saya nyanyikan dan hayati setiap kali saya melakukan yoga atau ketika saya harus melakukan aktivitas saya dengan rasa nyeri di punggung, atau ketika saya harus naik dan turun tangga. Saat ini, Tuhan memang tidak mengubah tulang punggung saya menjadi normal, tetapi Tuhan memberikan cara yang jitu untuk mengatasi rasa nyeri itu dan bagaimana hidup dengan skoliosis tersebut. Sekarang, saya tidak perlu terapi rutin, seperti yang sebelumnya saya lakukan hampir tiap minggu sekali atau dua kali. Saya tidak merasakan nyeri berkepanjangan karena jika rasa nyeri itu muncul, saya dapat mengatasinya. Dan di atas semuanya itu, saya merasakan bagaimana hidup berdamai dengan skoliosis.


Surakarta, 4 Februari 2009

1/1/09

SCOLIOSIS: TIDAK MEMATIKAN TETAPI BISA MERUSAK

Pertama kali mendengar kata scoliosis pada usia 21 tahun, saya tidak pernah menyangka kalau kondisi penderita scoliosis dapat seperti berada dalam pusaran gelombang tanpa tahu kapan berakhir. Pada usia 21 tahun, orang tua saya mengajak saya berkonsultasi pada seorang dokter spesialis tulang. Dia mengatakan bahwa saya menderita scoliosis berbentuk huruf S terbalik. Dokter hanya menganjurkan agar saya menggunakan brace khusus penderita scoliosis. Tetapi, kata dokter itu lagi, pada lewat usia 23 tahun, pertambahan kurva scoliosisnya akan berhenti dengan sendirinya. Dengan penjelasan seperti itu, saya tidak pernah menganggap scoliosis sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dengan serius. Oleh karena itu saya menjalani aktivitas sehari-hari saya tanpa strategi khusus karena kondisi punggung saya tersebut. Walaupun, saya saat itu sudah merasakan sedikit rasa nyeri di punggung sebelah kanan setiap kali saya beraktivitas lebih banyak dari biasanya.

Sekarang, setelah berjalan 14 tahun, saya tidak merasa sesuatunya membaik atau pertambahan kurva scoliosis yang sudah berhenti, justru kondisi yang semakin tahun semakin memburuk. Berawal pada tahun 2006 ketika saya semakin merasakan nyeri yang cukup sering, saya memberanikan diri berkonsultasi ke dokter bedah ortopedi. Benar seperti apa yang saya takutkan. Dia mengatakan, scoliosis saya sudah cukup serius dan harus dilakukan tindakan operasi untuk mencegah kemungkinan lain yang lebih buruk. Dia juga memberikan rekomendasi dokter yang dianggap cukup kompeten untuk melakukan operasi koreksi scoliosis beserta perkiraan biayanya. Tidak hanya itu, dokter tersebut juga memberikan gambaran bagaimana tindakan-tindakan yang akan saya terima jika saya menjalani operasi koreksi tersebut. Mendengar penjelasan dokter, tentu saja bayangan saya sebagai orang yang awam di bidang medis sangat mengerikan. Bukan saja operasi tersebut adalah operasi yang membutuhkan waktu cukup lama yaitu 6-8 jam, tetapi operasi tersebut juga cukup rumit karena inti operasi tersebut adalah mengoreksi susunan ruas tulang belakang.

Satu tahun saya memikirkan hal tersebut sambil terus bertanya sebanyak mungkin informasi tentang scoliosis. Dalam masa satu tahun tersebut, kondisi fisik saya semakin tidak nyaman. Nafas sering sesak walau hanya untuk beraktivitas ringan menurut ukuran kondisi orang normal. Berjalan terlampau cepat dapat membuat nafas saya tersengal. Naik turun tangga dapat membuat punggung yang sudah nyeri semakin nyeri. Keadaan ini akan bertambah buruk jika saya terkena flu dan pilek atau batuk yang berkepanjangan. Scoliosis bagi saya seperti seutas tali yang amat kuat yang pelan tapi pasti membelenggu tubuh saya, hingga suatu saat seluruh tubuh saya terikat kuat dan tidak dapat bergerak lagi.

Percakapan dan sharing dengan teman-teman, hamba-hamba Tuhan, maupun konselor Kristen menolong saya untuk menggumulkan kondisi ini dengan lebih dalam bersama Tuhan. Sering, bahkan amat sering, dalam emosi saya merasakan nyeri berkepanjangan, air mata fisik tidak dapat menghilangkannya. Ketika dengan hati yang amat dalam saya menangis dan mengatakan kepada Tuhan bagaimana sakitnya punggung saya, dari sana saya biasanya mendapat kekuatan untuk menghadapi rasa nyeri itu. Dalam kondisi seperti ini, saya masih berharap bahwa fisioterapi, olah raga dapat menghambat pertambahan kurva scoliosis saya. Akan tetapi ternyata hal itu tidak terjadi. Sebulan yang lalu ketika saya kembali berkonsultasi pada dokter yang sama seperti waktu setahun yang lalu, dia tetap mengatakan operasi adalah tindakan satu-satunya. Dengan hasil rontgen, dokter justru menambahkan bahwa kondisi kurva tulang belakang tersebut sudah mempengaruhi ruang gerak paru-paru. Hal ini menyebabkan saya cepat lelah, nafas sering tersengal, karena pasokan oksigen dan ruang kerja paru-paru yang tidak optimal.

Banyak pikiran, pertimbangan, emosi dan ketakutan bercampur dalam pikiran dan hati saya. Memang benar Tuhan pasti punya rencana atas hidup anak-anak-Nya. Saya tahu hal itu. Memang benar Tuhan bisa melakukan perkara yang besar dalam hidup anak-anak-Nya. Saya menyakini itu. Memang benar Tuhan mampu melakukan mukjizat sampai saat ini. Saya mengamini hal itu. Akan tetapi, di satu sisi, saya juga tahu bahwa Tuhan memberi kita akal budi, hikmat untuk berusaha. Tuhan juga memiliki waktu-Nya sendiri yang kadang-kadang tidak bisa disamakan dengan waktu kita. Saya juga tahu ada kenyataan-kenyataan yang masih harus saya lalui di luar harapan-harapan transeden tersebut. Dan di sini, saya, harus cepat menentukan keputusan apa yang harus saya ambil untuk kondisi ini. Operasikah? Mampukah saya benar-benar meletakkan keperluan biaya yang cukup besar dengan iman di tangan Tuhan? Beranikah saya melangkah ke meja operasi dengan keteguhan hati? Dan beranikah saya jika kenyataan akan berkata lain bahwa bukan kesembuhan tetapi justru risiko paling buruk dari operasi yaitu kelumpuhan, yang harus saya alami? Apa yang akan saya lakukan jika kelumpuhan benar-benar kenyataan yang harus saya alami? Apakah saya harus menyalahkan Tuhan karena membiarkan saya menjalani operasi? Dapatkah orangtua dan saudara-saudara saya menerima kenyataan terburuk tersebut? Apakah orangtua dan saudara-saudara saya tidak akan menyalahkan saya kalau kelumpuhan itu benar terjadi karena merekalah yang paling keras berteriak “jangan operasi” saat ini? Ataukah saya akan mengikuti anjuran yang menyarankan saya mengikuti penyembuhan Ilahi? Ataukah saya benar-benar berani membiarkan scoliosis ini tetap bertambah parah hingga perlahan-lahan melemahkan dan melumpuhkan saya?

Apa yang ada di depan saya benar-benar bukan sesuatu yang cukup jelas atau samar-samar bahkan saya ingin katakan saya tidak tahu apa pun yang ada di depan saya. Saya hanya dapat berjalan perlahan ke depan sambil dengan sangat hati-hati menentukan apa yang dapat saya lakukan saat ini. Bagi saya, dengan kondisi ini, seringkali membuat saya ingin melakukan banyak hal selagi saya mampu. Akan tetapi, saya berulang kali harus mengakui bahwa tidak banyak yang bisa saya lakukan dengan kelemahan fisik ini. Kelemahan ini seperti sebuah penjara bagi saya sehingga saya harus menahan diri untuk tidak dapat melakukan segala hal yang saya ingin lakukan. Dan ketika saya menyadari bahwa saya tidak mampu melakukan banyak hal yang ingin saya lakukan, saya akui saya seringkali menangis dalam hati saya; marah; kesal; juga kecewa; dan jengkel. Kenyataan inilah kemudian yang membuat saya mengubah keinginan saya ketika saya ingin melakukan banyak hal saya mengubahnya dengan melakukan sedikit yang bisa saya lakukan tetapi dengan usaha terbaik yang bisa saya berikan. Bukan sesuatu yang mudah mengubah keinginan tersebut dalam hati saya. Tetapi selagi saya tidak tahu apa yang akan ada di depan saya, saat ini yang bisa lakukan, saya akan berusaha melakukannya dengan usaha terbaik saya. Dan jikalau sesuatu yang buruk terjadi di depan saya, walaupun saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan. Saya harap saya tidak pernah menyesal karena sebelumnya saya telah berusaha melakukan sedikit hal dengan apa yang terbaik yang sama miliki bersama-Nya.


27 September 2007