8/24/09

MAKE A WISH, ANNA!!

Setiap ulang tahun memberi makna tersendiri dan aku selalu mencoba merefleksikan makna apa dari setiap ulang tahunku. Tahun ini, aku merasa tampaknya ulang tahunku akan berlalu biasa-biasa saja, tetapi dugaanku selalu salah. Tahun ini, secara istimewa Tuhan mengingatkanku akan beberapa hal melalui ucapan dari teman-teman lewat SMS atau FB. Ketika aku merefleksikannya, ada beberapa hal penting yang kucatat, yaitu:


1. Percayakan segala sesuatunya kepada Tuhan, percayalah dengan segenap hatimu maka Dia akan memimpin jalanmu.
Mungkin kalimat ini sudah sering kita dengar dalam perbincangan kita sehari-hari sebagai orang Kristen. Namun ketika pesan tersebut disampaikan di “hari” kita, aku rasa sepantasnya kalau kita memikirkan ulang seberapa jauh sih, rasa percaya kita kepada Tuhan selama ini? Seberapa jauh sih tindakan kita mempercayakan diri kepada Tuhan selama ini? Bagiku secara pribadi, it is not that simple. Dan, melalui momen ulang tahunku, aku tahu Tuhan ingin mengingatkanku tentang hal ini. Tuhan ingin aku memperbaharui kembali semangat dan spiritku dalam aku mempercayakan hidupku ini sepenuhnya kepada-Nya. Jadi, tidak semudah itu bukan??

2. Hiduplah untuk hari ini, jangan kuatirkan hari esok.
Kita cenderung membuat rencana untuk hidup kita. Kita ingin melakukan ini dan itu di masa depan. Kita sering memikirkan bagaimana menggapai mimpi-mimpi kita. Demikian juga aku. Banyak sekali mimpi-mimpi yang ingin kucapai dalam hidupku. Aku suka sekali merencanakan banyak hal untuk hari depanku. Akan tetapi, rencana-rencana itu kadang menguasai pikiranku sedemikian rupa sehingga aku lupa menikmati “hari ini”, hari ini yang diberikan Tuhan padaku. Untunglah, ada pesan masuk mengenai hal ini, dan aku diingatkan agar aku menikmati hidup hari ini, dan jangan sampai kurusak anugerah Tuhan hari ini dengan kekuatiran akan masa depan.


3. Make a wish.
Seorang teman menanyakan kepadaku, “What is/are your wish (es) Anna for your B’day?”. Aku menjawab, “I wish my scoliosis is going to be normal”. Selama ini aku sudah belajar untuk hidup dengan skoliosisku, jadi kupikir kali ini giliranku untuk “make a wish”. Dan aku masih berharap, suatu hari nanti, skoliosisku akan berubah menjadi kurva yang normal. Yeah, that’s my wish!


4. Teman-teman adalah harta yang tidak ternilai.
Setiap kali ulang tahun, aku selalu diingatka bahwa teman-temanku adalah harta yang tidak ternilai. Mereka bertebaran di sekelilingku dan selalu siap menopangku dalam segala situasi dan kondisi yang sedang kualami. Aku tidak habis pikir apa jadinya hidupku tanpa kehadiran teman-temanku. Thank you thousand again for being my friends and walking by side.

Dan, karena permintaan seorang teman pula, aku menuliskan refleksi ini.

Agustus 2009.

8/23/09

CONTOH TERJEMAHAN INGGRIS-->INDONESIA

NO STEPS TOO HIGH

“Joseph Ooi”
It seemed like any ordinary roll call. After all, university convocations can become routine, with so many graduating each time that most cannot wait for the ceremony to be over so that they can get on with picture taking and family celebrations. It was surely something all would have looked forward to, graduates and family alike, to lay their hands on the scroll that would confer on them the degree they had laboured for.

Not for joanne. As she sat the theatre waiting for her son’s name to be announced, her mind drifted. Tears began to moisten her eyes. Her heart skipped a beat.

All of a sudden, she felt like a solitary being in a sea of humanity. As she sat with concentrated gaze at her son painstakingly making his way to the stage to receive his scroll, her focus was only on Joseph. Her vision of all around started to fade. Only Joseph was in view.

Then, like a firm hand pressing on her chest, she felt a tinge of sadness weighing heavy on her heart. Before she knew it, her mind had drifted on an unanticipated excursion to years past.

It was 1997. There was nothing particulary auspicious about that year expect that Joanne had recently returned with her husband after a two-year stint in England. They had gone there after getting married in 1975. And, like most young married couples, she and her husband had decided to have a baby now that they were a little more settled in Singapore. (When Mourning Breaks by Anthony Yeo)

TAK ADA ANAK TANGGA YANG TERLALU TINGGI

”Joseph Ooi”
Panggilan itu seperti kegiatan memerika kehadiran siswa yang biasanya dilakukan di kelas. Perhelatan universitas telah menjadi sesuatu yang rutin, dan dengan banyaknya mahasiswa yang diwisuda, mereka hampir tidak sabar menunggu acara selesai sehingga mereka dapat segera berfoto-foto dan mengadakan acara perayaana dengan keluarga. Wisuda adalah sesuatu yang dinanti-nantikan semua orang, baik itu mereka yang diwisuda maupun keluarga mereka, menerima gulungan ijasah yang menyatakan kelulusan mereka, serta gelar yang sudah mereka perjuangkan sebelumnya.

Tidak demikian dengan Joanne. Saat ia duduk di bangku hadirin menantikan nama putranya dipanggil, pikirannya melayang jauh. Air mata berlinang di pelupuk matanya. Jantungnya berdebar tidak karuan.

Tiba-tiba, ia merasa seperti terkurung di tengah-tengah lautan manusia. Ketika ia duduk memandangi putranya yang sedang berjalan tertatih-tatih menuju panggung untuk menerima ijasahnya, pandangannya hanya tertuju pada Joseph. Pandangannya terhadap segala sesuatu di sekitarnya mulai memudar. Hanya Joseph-lah yang ada di pandangannya.

Lalu, seolah seperti sebuah tangan yang kuat menekan dadanya, ia merasakan kesedihan membebani hatinya. Sebelum ia menyadarinya, pikirannya telah melayang pada tahun-tahun yang telah berlalu.

Saat itu tahun 1977. Tahun itu tidak ada sesuatu yang berubah secara khusus kecuali bahwa Joanne dan suaminya baru saja kembali ke Singapura setelah dua tahun menjalankan tugas di Inggris. Mereka pergi ke sana setelah mereka menikah di tahun 1975. Dan, seperti kebanyakan pasangan muda, ia dan suaminya memutuskan untuk segera punya anak karena sekarang setidaknya mereka sudah menetap di Singapura.

CONTOH TERJEMAHAN INGGRIS-->INDONESIA

I NEED Thee Every Hour
God’s Prevenient Grace

Often The Lord through some experience prepares us for a test or trial yet to come. Such was true of Annie S.Hawks (1835-1919), when as a young busy housewife and mother she was led to pen the words of the hymn, ”I Need Thee Every Hour.” She records her experience in writing the words:

One day as a young wife and mother of 37 years of age, Iwas buy with my reguler household tasks. Suddenly, I became filled with the sense of nearness to the Master,and I began to wonder how anyone could ever live without Him, either in joy or pain. Then the words were ushered into my mind and these thoughts took full possession of me.

AKU MEMERLUKAN TUHAN SETIAP JAM
Anugerah Allah Yang Selalu Tersedia

Seringkali Tuhan memberikan pengalaman kepada kita melalui ujian dan cobaan yang kita alami. Hal ini benar-benar dialami oleh Annie S. Hawks (1835-1919), ketika saat itu ia masih menjadi seorang ibu rumah tangga dan ibu yang masih muda, ia menuliskan kata-kata lagu himne ini, “Aku Memerlukan Tuhan Setiap Jam”. Ia mencatat pengalamannya dengan menuliskan demikian:

Suatu hari seperti layaknya seorang istri dan ibu yang masih muda, ketika itu saya berusia 37 tahun, saya disibukkan dengan tugas-tugas rutin rumah tangga. Tiba-tiba, saya merasa dipenuhi dengan rasa kedekatan saya dengan Tuhan, dan saya mulai bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat hidup tanpa Dia, baik itu ketika senang maupun susah. Kemudian kata-kata bermunculan di benak saya dan pemikiran ini memenuhi saya.

CONTOH TERJEMAHAN INGGRIS-->INDONESIA

Amazing Grace
From Slave Ship Owner to Salvation

One of the most popular and beloved of all hymes, ”Amzing Grace”, was penned by John Newton of England in the 1700s. The hymn relates the pilgrimage of its author, who was radically transformed by the grace of God.
John Newton’s devout mother dedicated him early to the ministry and began his religious training at an early age. He could recite the catechism and hymn by the age of hour. His mother died when he was seven, and at the age of eleven, after several years of school away from home, he went to sea with his sea captain father. Later he served in the Bristish Navy, deserted, and when caught was put in irons and whipped in public.
ANUGERAH YANG MENAKJUBKAN
Pemilik Kapal Perdagangan Budak yang Diselamatkan

Lagu “Amat Besar Anugerah (Amazing Grace)” adalah salah satu lagu himne yang terkenal dan sangat disukai orang. Lagu ini ditulis oleh John Newton dari Inggris sekitar tahun 1700. Isi lagu ini berkaitan erat dengan perziarahan hidup pengarangnya, yang diubah oleh anugerah Allah secara total.

Ibunya yang amat saleh sudah menyerahkan John Newton sejak ia masih kecil ke suatu jemaat untuk melayani di sana dan kepadanya sudah diajarkan tentang hal-hal yang sifatnya relijius pada usia yang masih sangat muda. Pada usia empat tahun ia sudah mampu menghafalkan katekisme dan melantunkan lagu-lagu himne. Namun ibunya meninggal saat ia berusia tujuh tahun, dan di usia sebelas tahun, setelah ia beberapa tahun sekolah di tempat yang jauh dari rumahnya, ia mulai berlayar bersama ayahnya yang seorang kapten kapal. Kemudian ia bekerja di Angkatan Laut Inggris, namun ia membelot, dan ketika ia tertangkap ia mengalami penyiksaan dengan disetrika dan dicambuk di depan umum.

6/19/09

TRAINING ON COUNSELING PRINCIPLES AND SEMINAR ON MANAGING FAMILY PROBLEMS

“Solo is a very calm and quiet city. It is not crowded. It is different from Singapore. Are you sure you need counseling? What stress do you have?” Those were some sentences delivered by Mr. Anthony Yeo to start training on counseling principles. Mr. Yeo has been in the practice of psychological counseling with the Counseling and Care Centre since 1972 and has served as Director, Clinical Director and currently as Consultant Therapist at the Centre. He has written books on counseling, stress and marriage and lectured at various institutions of higher learning locally and in various parts of Asia. The training was held on April 26-27, 2009 at Holy Word Christian Church, Solo, incorporated between Discipleship Department of Holy Word Christian Church and PEKA (The Centre of Family and Children Counselling). The training proposed to equip participants with counseling principles to care for others. Mr. Yeo explained that counseling is understanding people. Understanding people means learning to listen. Further he said that there are three basic points of counseling skills. Those are observation, conversation and problem-solving. Those topics were explained in the first day of training.

On the second day of training, he focused on conversational skills, including clarification, reflecting feelings, open and closed questions, paraphrasing, and summarizing. Clarification means come with open mind. Reflecting feelings contain empathy, understanding, connection with the person, and let the person knows that s/he is not alone. Open and closed questions mean to question investigation. Paraphrasing is needed to clarify the problem with the person. And summarizing will help us to identify the whole problem briefly. In the end of the training, he asked the participants to participate in the problem-solving discussion. Problem-solving includes problem definition, attempted situations, desired changes, and intervention plan. To understand those steps, the speaker asked the 50 participants to do some activities.

While in the seminar on managing family problem Mr. Yeo focused his discussion on push-pull approach. There were about 125 participants attending the seminar on April 26, 2009. According to Mr. Yeo, there are forces identified as “push” forces that tend to make distance between husband and wife. There are also external forces that exert a “pull” on both of them. Those are potential to draw them away from each other. The “push” and “pull” forces are present in any marriage. They do not exert equal power on the couple and if the strength of the internal or external forces becomes powerful, it can lead to a marital break-up. Of course there are also positive forces that bind the couple together. These are internal “pull” and external “push” forces. They play the role of keeping the couple in the marital system. Such forces may include whatever is regarded as benevolent to the couple. After discussing the topic, Mr. Yeo also opened session for the participants to ask questions. Some participants used the opportunity to share their problems and ask possible suggestions. Though he could not give much time to listen all of the participants problems, the seminar gave significant benefits to the participants and met the objective of conducting the seminar.

Some participants said that they felt satisfied by attending the seminars and the training. They suggested that similar seminar or training should be conducted again to facilitate and enlighten members of the congregation to care for others.

THE ART OF MARRIAGE

Touching and inspiring. These are two words to express my comments about the message on “The Art of Marriage” delivered by Rev. Dr. Paulus Kurnia from Amanat Agung Theological Seminary. He started sharing with this sentence “To get married is easy, but to run a family is not that easy”. We can get married in at least one day and one night preparation when we invite our friends, relatives to come to our wedding party. But running a family is longer than that. And, as Christians, we should put our marriage in the Christian context.According to him, a Christian marriage is the union of two forgivers, two listeners, and two servants. How should the three categories work? Rev. Paulus said “because of Jesus Christ, we are forgiven before God. As spouses in a Christian family, we should be forgivers to one another. How many times? Jesus Christ said in Matthew 18:22, “I tell you, not seven times, but seventy-seven times” (NIV).How about two listeners in the context? Listening skill needs a process of learning. When we listen to others, we can send empathy to them. And, listening skill needs a sense of body language. In the context of a Christian family, husbands and wives should develop the sense to detect his/her spouse’s body language. His/her body language will tell deeper feelings than words.What about servanthood in the Christian family? We should serve our spouses as servants as we serve our God. Though it is tough work to do in nowadays world, we should be humble to serve our spouses. God has served us the first model through the life of Jesus Christ. Therefore, we should make it as our model too, to serve our spouses.After all, Christian marriage seems an ideal marriage to achieve; however we know that in a Christian family, there are not just two parties, but three parties; husbands, wives, and the Grand Admiral. (The sermon was delivered on February 20, 2008 at English Service-GKKK Solo)

3/19/09

PESAN SINGKAT YANG MENGUBAHKAN

Orang sering berkata bahwa menjadi anak bungsu itu menyenangkan dibandingkan menjadi anak sulung. Saya, anak bungsu dari empat bersaudara, namun baru benar-benar merasakan bagaimana menjadi anak bungsu akhir-akhir ini. Sebelumnya, saya mengenal kakak-kakak saya hanya secara formal bukan secara emosional. Kakak saya tiga orang; dua laki-laki, satu perempuan. Beda usia di antara kami memang cukup jauh. Saya dengan kakak saya perempuan yang nomor tiga adalah 17 tahun. Dapat dibayangkan, berapa kira-kira beda usia saya dengan kedua kakak laki-laki saya yang lain. Sewaktu saya masih kecil, kakak-kakak saya sudah bekerja di luar kota, bahkan yang sulung telah menikah. Dapat dimengerti pula jika kami jarang berkumpul dan bertemu. Saya merasa hubungan kami wajar-wajar saja dan tidak ada sesuatu yang salah dalam hubungan kami, sampai saya mengalami satu peristiwa. Satu peristiwa yang membuka hati saya bahwa ternyata selama 30 tahun lebih telah ada sesuatu yang hilang di antara kami, tanpa saya (atau pun kami) sadari.

Kira-kira bulan Oktober tahun 2004, kakak laki-laki saya yang nomor dua menderita sakit yang cukup parah: jantung koroner. Untuk mempertahankan hidupnya, dokter menyarankan dia menjalani terapi pemasangan stent dalam beberapa pembuluh darahnya yang tersumbat. Hari itu, seperti biasa, saya berangkat ke kantor. Di tengah perjalanan, saya mendengar ada pesan singkat (SMS) masuk ke hand phone saya. Karena saya membonceng sepeda motor, saya dapat membacanya sambil berada di atas sepeda motor. Pesan singkat itu dari kakak saya yang akan berangkat ke Jakarta untuk pemasangan stent. Dia menulis pesan meminta saya mendoakan dia supaya terapi yang akan dilakukan berjalan dengan lancar. “Doakan supaya semuanya lancar. HP-mu aktif terus, kan?” Demikian tulisnya di pesan singkat itu. Saat membacanya, saya merasakan seperti ada gunung es mencair dalam hati saya. Selama 30 tahun lebih tidak pernah sekali pun kakak saya meminta bantuan saya, dukungan saya, walau hanya sebatas doa. Seandainya waktu masih memungkinkan, saat itu, saya ingin berlari ke bandara, menjumpai dia, dan memeluknya.

Sesuatu yang saya kira selama 30 tahun lebih berjalan wajar-wajar saja dalam hubungan kami sebagai saudara, baru saya sadari sekarang ternyata ada sesuatu hal berharga yang hilang tanpa saya sadari di dalam hubungan kami sebagai kakak-adik. Malam itu, kakak saya menjalani terapi pemasangan stent dalam dukungan doa-doa kami. Walaupun tidak semua dari kami dapat bersama-sama dengannya, tapi kami merasakan bahwa kami bersama-sama dengannya melalui doa-doa kami.

Sekarang, sudah hampir dua tahun sejak kejadian itu dan Tuhan semakin memulihkan hubungan kami. Rutinitas kami berjalan seperti biasa, tapi saya tetap dapat merasakan bagaimana memiliki kakak-kakak dalam hubungan emosional yang indah. Tuhan memang tidak memulihkan jantung kakak saya sepenuhnya. Tiga buah stent yang terpasang dalam pembuluh darahnya memang tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Akan tetapi, Tuhan memulihkan hati kami; hubungan kami.

Melalui peristiwa itu, saya ingin mengatakan bahwa karya Tuhan tidak pernah terduga oleh pikiran manusia. Tuhan dapat memakai sesuatu yang tampaknya tidak berarti (pesan singkat) untuk rencana-Nya. Tuhan juga dapat membuat sesuatu yang tampaknya tidak menyenangkan (menderita sakit) untuk mendatangkan kebaikan untuk anak-anak-Nya. Dalam salah satu artikelnya, Rick Warren pernah menuliskan demikian: “Allah lebih peduli pada karakter kita, daripada kenyamanan kita. Rencana-Nya adalah menjadikan kita sempurna, bukan memanjakan kita”. (Juli 2006).